Fiqh Muslimah Archive

Fiqh Muslimah, Kajian, Kajian Islam, Kajian Radio Kita FM, Ustadz Tata Abdul Ghoni

[Kajian MP3] Darah Istihadhah (Ustadz Tata Abdul Ghoni)

darah istihadhahBismillah..

Sungguh.. Syari’at Islam sangat menghormati dan memuliakan kaum wanita. Di dalam permasalahan bidang Fiqh pun, Islam  sudah membahas permasalahan ini secara terperinci dan terpisah. Untuk itu seyogyanya kaum muslimah bisa menuntut ilmu syar’i dan mengetahui permasalahan fiqh ini.

Diantara pembahasan Fiqh untuk muslimah adalah permasalahan darah Istihadhah. Di kalangan wanita ada yang mengeluarkan darah dari farji’ (vagina)-nya di luar kebiasaan bulanan dan bukan karena sebab kelahiran. Darah ini diistilahkan sebagai darah istihadlah. Al Imam An Nawawi rahimahullaah dalam penjelasaannya terhadap Shahih Muslim mengatakan: “Istihadlah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita bukan pada waktunya dan keluarnya dari urat.” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi 4/17, Fathul Bari 1/511)

Al Imam Al Qurthubi rahimahullaah mensifatkannya dengan darah segar yang di luar kebiasaan seorang wanita disebabkan urat yang terputus (Jami’ li Ahkamil Qur’an 3/57).

Syaikh Al Utsaimin rahimahullaah memberikan definisi istihadlah dengan darah yang terus menerus keluar dari seorang wanita dan tidak terputus selamanya atau terputus sehari dua hari dalam sebulan. Dalil keadaan yang pertama (darahnya tidak terputus selama-lamanya) dibawakan Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya dari hadits ‘Aisyah radhiallaahu ‘anha, ia berkata: “Fathimah bintu Abi Hubaisy berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak pernah suci…’ “ (HR. Bukhari no. 306, 328, dan Muslim 4/16-17) Dalam riwayat lain: ‘Aku istihadlah tidak pernah suci… .’

Adapun dalil keadaan kedua adalah hadits Hamnah bintu Jahsyin radhiallaahu ‘anha ketika dia datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan mengadukan keadaan dirinya: “Aku pernah ditimpa istihadlah (darah yang keluar) sangat banyak dan deras…” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan dishahihkannya. Dinukilkan dari Al Imam Ahmad akan penshahihan beliau terhadap hadits ini dan dari Al Imam Al Bukhari penghasanannya). (Terj. Risalah fid Dima’, hal. 40)[sumber]

Adapun untuk lebih jelasnya Anda bisa simak dan dengarkan langsung dalam kajian berikut ini, disampaikan oleh Ustadz Tata Abdul Ghoni dalam Program Acara Pernik Muslimah, sebuah pembahasan Fiqh untuk Muslimah di Radio Kita FM setiap hari Selasa pukul 14.00-15.00 WIB di tanggal 11 Maret 2014:

Simak dan dengarkan langsung:

Unduh untuk didengarkan di Laptop/PC dan Gadget lainnya DISINI.