Tafsir Archive

Kajian, Kajian Islam, Kajian Radio Kita FM, Pemateri, Tafsir, Ustadz Arif Syarifudin

[Download Kajian Mp3] Pembahasan tafsir sa’di muqaddimah surat al – baqarah ayat 17-20 – Ust Arif Syarifudin, Lc

Ust Arif S-003-12-2014

Berikut adalah Playlist Kajian Mp3 dengan pembahasan “Tafsir Al-quran – Pembahasan tafsir sa’di muqaddimah” surat al baqarah ayat 17-20″  dengan Pemateri Ustadz Arif Syarifudin, Lc. Anda Bisa mengikuti secara Langsung kajian yang lainya dengan seputar pembahasan “Adab dan Ahlak” bersama Ustadz Syarifudin, Lc Secara Langsung bisa melalui  Program Acara Madu [Majelis Dhuha] Insya Allah, Pada setiap Hari Selasa Pukul 08.00 – 09.00 WIB di Frekuensi Radio 94.3 Kita Fm Cirebon Atau lewat Streaming http://live.radiosunnah.net.

Semoga Bermanfaat, Terimakasih

TOMBOL-HIJAU

Artikel, Tafsir

Tafsir Surat Al-Insyirah

Tafsir Alquran
Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya diantara sekian banyak surat-surat Qur’an yang sering terulang-ulang mampir dalam pendengaran kita, dan kita sangat membutuhkan pemahaman serta mengetahui hukum dan pelajaran yang terkandung didalamnya ialah surat al-Insyarah.

Yaitu firman -Nya tabaraka wa ta’ala:

 ﴿ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ١ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ٢ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ٣ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ٤ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا ٦ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ٧ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب ٨﴾ [ الانشراح: 1-8]

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS Alam Nasyrah: 1-8).

Penjabaran ayat:

Allah ta’ala memulai surat ini dengan firman -Nya:

 ﴿ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ١ ﴾ [ الانشراح: 1]

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”. (QS Alam Nasyrah: 1).

Allah ta’ala berkata kepada nabi -Nya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  dalam rangka mengingatkan nikmat yang diberikan padanya, dengan keutamaan yang dimiliki, sebagai penggugah agar tatkala dirinya teringat hal tersebut mau segera mensyukuri nikmat-nikmat yang dianugerahkan padanya tersebut, agar nantinya bisa memperoleh tambahan dari karunia tersebut. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan, “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu, Wahai Muhammad, kami telah memberi cahaya untuk hatimu, kami jadikan hatimu terasa luas dan lapang, kami lapangkan dadamu untuk mudah menerima syari’at dan urusan agama, berdakwah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla serta kami sifati dengan budi pekerti yang luhur, mengedepankan urusan akhirat, mudah mengerjakan kebajikan, dan dirimu tidak merasa sempit lagi sesak sehingga sulit mengerjakan kebaikan yang terasa terbentang, sebagaimana dikatakan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

 ﴿ فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهۡدِيَهُۥ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِ ١٢٥ ﴾ [ الأنعام: 125]

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam”. (QS al-An’aam: 125).

Dan diantara do’a yang dipanjatkan oleh nabi Musa ‘alihi sallam ialah:

 ﴿ قَالَ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي ٢٥ ﴾ [ طه: 25]

“Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku”. (QS Thahaa: 25).

Dan diantara bentuk lapang dada yang diberikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla pada nabi -Nya, ialah apa yang -Dia karuniakan pada malam Isra, serta segala perkara yang berkaitan dengan kejadian tersebut dari kelapangan secara maknawi yang beliau jumpai. Sebagaimana dijelaskan kisah Isra tersebut dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بَيْنَا أَنَا عِنْدَ الْبَيْتِ بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ إِذْ سَمِعْتُ قَائِلاً يَقُولُ أَحَدُ الثَّلاَثَةِ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ. فَأُتِيتُ فَانْطُلِقَ بِى فَأُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيهَا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشُرِحَ صَدْرِى إِلَى كَذَا وَكَذَا. قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْتُ لِلَّذِى مَعِى مَا يَعْنِ, قَالَ: إِلَى أَسْفَلِ بَطْنِهِ. فَاسْتُخْرِجَ قَلْبِى فَغُسِلَ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ أُعِيدَ مَكَانَهُ ثُمَّ حُشِىَ إِيمَانًا وَحِكْمَةً » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Tatkala diriku sedang berada disisi Ka’bah, dalam kondisi tidur dan terjaga tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara yang menyeru, “Salah satu dari tiga diantara dua orang. Kemudian ia mendatangiku serta membawaku pergi. Lalu dibawakan bersamaku bejana yang terbuat dari emas yang berisi air zam-zam, kemudian seteleh itu dadaku dibelah sampai batas ini dan itu”. Berkata perawi hadits, yang bernama Qotadah, “Aku bertanya pada orang yang bersamaku, apa yang dimaksud? Dijawab, “Sampai bawah perut beliau”. Nabi melanjutkan, “Kemudian hatiku dikeluarkan lalu dicuci dengan air zam-zam, setelah itu dikembalikan lagi ke tempatnya, maka sesudah itu hatiku dipenuhi dengan keimanan dan hikmah”. HR Bukhari no: 3207. Muslim no: 164.

Kemudian Allah ta’ala melanjutkan firman -Nya:

 ﴿ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ٢ ﴾ [ الانشراح: 2]

“Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu”.(QS.Alam Nasyrah: 2).

Artinya kami telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lewat. Dan kami hilangkan beban yang berat yang menimpamu pada fase Jahiliyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya yang lain:

 ﴿ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ٢ ﴾ [ الفتح: 2]

“Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang”. (QS al-Fath: 2).

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla melanjutkan kembali firman  -Nya:

﴿ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ٣ ﴾ [ الانشراح: 3]

“Yang memberatkan punggungmu”. (QS Alam Nasyrah: 3).

Maksudnya sangatlah berat, sampai terdengar suara gemertak tulang punggung dikarenakan menanggung beban yang berat. Ahli bahasa menjelaskan, “Beban berat bawaan diatas punggung onta apabila sampai terdengar suara ringkihannya, dikarenakan begitu berat beban yang dibawanya, itulah makna naqodho“.

Ulama lain mengatakan, “Hanya saja diletakan dosa para nabi dengan beban yang sangat berat seperti ini walaupun dosa mereka telah diampuni, yang disebabkan perhatian mereka terhadap perbuatan dosa, maka penyesalan manakala berniat melakukannya  dan  begitu merugi bila sampai melakukannya”.

Selanjutnya Allah ta’ala mengatakan:

﴿ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ٤ ﴾ [ الانشراح: 4]

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu”.(QS Alam Nasyrah: 4).

Berkata Mujahid, “Yakni pengumuman, inilah yang dikatakan Hasan bin Tsabit dalam untain bait syair:

     Begitu mulia gelar yang disandang oleh penutup para nabi

     Dari Allah yang bersaksi dengan isyarat serta kesaksian

     Menyatukan dalam nama -Nya dengan nama nabi

Tatkala dikumandangkan muadzin lima kali dalam sehari

Sangatlah mustahil sebuah nama mampu menyamai kemuliaannya

Ketika disejajarkan bersama Maha Terpuji yakni Muhammad

Diriwayatkan oleh Imam adh-Dhahak dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata, “Allah mengatakan pada nabi-Nya, “Tidaklah disebut diriKu melainkan engkau pun ikut disebut, dalam adzan, iqomah, tasyahud, pada hari jum’at diatas mimbar, hari raya idul fitri, dan adha serta hari-hari tasyriq, hari Arafah, tatkala melempar tiga jumrah, dibukit Shafa dan Marwah, pada khutbah nikah, serta dibelahan bumi timur dan barat dimanapun manusia berada.

Kalau seandainya ada seorang menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Terpuji serta percaya dengan adanya surga dan neraka plus dibarengi percaya dengan segala sesuatu, akan tetapi, dirinya tidak bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang rasul utusan Allah, maka semua perbuatan serta keyakinannya tersebut tidak berguna sama sekali, bahkan dirinya masih dalam keadaan kafir.

Ada lagi para ulama yang mengatakan, “Maksud ayat diatas, kami umumkan penyebutanmu, dengan kami cantumkan didalam kitab-kitab suci yang diturunkan pada para nabi sebelummu, kemudian kami perintahkan mereka supaya menyampaikan kabar gembira dengan kedatanganmu, dan tidak ada agama yang tersisa melainkan agama yang engkau bawa, yang akan mengguguli semua agama sebelumnya.”

Ada pula yang menafsirkan, “Kami angkat penyebutan namamu di sisi para malaikat di langit, kemudian didunia dihadapan kalangan orang beriman, kemudian kami akan angkat kembali penyebutan namamu diakhirat dengan kedudukan terpuji yang kami anugerahkan padamu, serta kemuliaan yang berlipat-lipat”. Dan yang nampak bahwa ayat diatas mencakup semua makna yang disebutkan oleh para ulama dimuka tadi”.[1]

Sedangkan Syaikh Abdurahman bin Nashir as-Sa’di, beliau menjelaskan, “Bagi beliau dalam hati umatnya memiliki kemulian serta kecintaan dan keagungan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun setelah Allah ta’ala, maka Allah membalas dari umatnya sebaik-baik balasan atas jasa yang diberikan oleh seorang nabi pada umatnya”.[2]

Kemudian dilanjutkan oleh Allah ta’ala dengan firmanNya:

﴿ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ ﴾ [ الانشراح: 5]

“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS Alam Nasyrah: 5).

Ini merupakan berita gembira dari Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada utusan -Nya serta umatnya. Sebagaimana kondisi Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di makah dengan keadaan yang begitu sulit lagi sempit. Ketika beliau mencoba dakwahnya di Thaif juga penerimaannya demikian, manakala sampai di madinah kesulitan itu masih saja ada yakni tatkala berhadapan dengan orang-orang munafik.

Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla pun benar-benar memenuhi janji yang telah -Dia janjikan padanya dahulu dengan kemudahan pada urusan dakwahnya, sehingga tidaklah beliau meninggal meliankan telah Allah Shubhanahu wa ta’alla taklukan baginya negeri Hijaz dan Yaman, lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla lapangkan rizkinya, sampai sekiranya ada dikalangan mukmin yang menerima dua ratus onta serta mendapat hibah yang luar biasa banyaknya sehingga dia simpan bagi keluarganya dan mampu mencukupi kebutuhannya selama satu tahun penuh.

Dan kemudahan ini yang dicapai oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  demikian pula akan dirasakan oleh umat beliau. Begitu pula maksud firman Allah ta’ala pada ayat berikutnya:

 ﴿ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا ٦ ﴾ [ الانشراح: 6]

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS Alam Nasyrah: 6).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا » [أخرجه أحمد]

Ketahuilah, sesungguhnya pada kesabaran terhadap apa yang engkau benci mempunyai kebaikan yang sangat banyak. Dan sesungguhnya pertolongan itu bersama dengan kesabaran, kelapangan bersama kesusahan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan“. HR Ahmad 5/19 no: 2803.

Ibnu Abbas menjelaskan, “Allah ta’ala berfirman, “Aku ciptakan satu kesulitan, kemudian gantinya Aku ciptakan dua kemudahan, dan tidak mungkin kesulitan itu mengalahkan kemudahan”.[3] Yang ingin beliau jelaskan, walaupun bila dicermati bahwa ayat tersebut menyebutkan kesulitan sebanyak dua kali begitu juga kemudahan sebanyak dua kali. Maka sebagaimana dijelaskan oleh ahli balaghoh bahwa kesulitan didua ayat tidaklah disebut kecuali sekali saja, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

﴿ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا ٦  ﴾ [ الانشراح: 5-6]

“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS Alam Nasyrah: 5-6).

Kesulitan pertama dalam ayat di ulangi kembali pada ayat kedua dengan mengunakan alif lam, dan dua huruf ini memiliki pesan tersembunyi bahwa antara yang pertama dan kedua itu sama hakekatnya, adapun kemudahan yang disebut dalam dua ayat diatas tidak ditampilkan dengan alif dan lam namun datang dengan isim nakirah (umum), maka kaidahnya apabila ada sebuah kata benda yang diulang dua kali secara ma’rifah (jelas) maka yang kedua kalinya sama kedudukannya seperti pertama, melainkan sangat sedikit kasus yang keluar dari kaidah umum ini. Dan apabila ada kata benda yang diulang dua kali dengan ungkapan nakirah (umum) maka yang kedua bukan yang dimaksud pada jumlah pertama, dikarenakan yang kedua juga dengan lafad nakirah.

Maka kesimpulannya, didalam dua ayat diatas menjelaskan pada kita adanya dua kemudahan pada satu kesulitan. Dan dalam hal ini, ada seorang ulama yang mengatakan dalam untaian bait syairnya:

Tatkala hati penuh dengan kegundahan

       Begitu sempit terasa dada nan luas ini

Kebencian seakan merasuk dan tinggal dengan tenangnya

       Membuat dada sibuk menghapus perkaranya

       Datang padamu keterputus asaan, lalu dirimu

       Memohon pada Dzat Pemurah yang mengabulkan do’a

       Karena tiap kejadian apabila sulit terselesaikan

       Maka pertolongan akan segera menghampirinya

 

Ada lagi yang mengatakan:

Sekiranya ada kesedihan yang menimpa seorang

     Di sisi Allah lah jalan keluar semuanya

       Dikala semua hamba mengira tidak ada jalan lagi

       Maka Dia angkat kesulitan yang telah disangka tertutup

 

Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan dalam ayat berikutnya:

﴿ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ٧ ﴾ [ الانشراح: 7]

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS Alam Nasyrah: 7).

Maksudnya jika engkau telah selesai dari urusan dunia serta kesibukannya, telah terputus hubunganmu bersamanya, segeralah menunaikan ibadah, kerjakanlah dengan penuh semangat, pikiran kosong dari dunia dan ikhlaskan niat dan tujuan hanya untuk Rabbmu. Ibnu Abbas dan Qotadah mengatakan, “Apabila engkau telah selesai dari sholatmu maka bersungguh-sungguhlah kamu didalam berdo’a dan mintalah pada -Nya untuk dimudahkan urusanmu”.

Adapun Ibnu Mas’ud maka beliau menjelaskan, “Apabila engkau telah selesai dari perkara wajib, maka kerjakanlah sholat malam”.

Lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla menutup surat ini dengan firman-Nya:

﴿ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب ٨﴾ [ الانشراح: 8 ]

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS Alam Nasyrah: 8).

Ats-Tsauri mengatakan, “Jadikan niatmu serta tujuanmu hanya tertuju kepada Allah azza wa jalla”.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

Oleh: Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi


[1] . al-Jami li Akhamil Qur’an 22/357-368.

[2] . Tafsir Ibnu Sa’di hal: 888.

[3] . Tafsir al-Qurthubi 22/358.

Artikel, Tafsir

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 3

index

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS: Al-Maidah Ayat: 3)

Tafsir
Allah mengharamkan bangkai atas kalian, yaitu hewan yang mati tanpa disembelih. Allah mengharamkan darah yang mengalir, daging babi dan hewan yang saat disembelih tidak disebut nama Allah. Begitu pula hewan yang tercekik sampai mati, hewan yang mati karena terpukul dengan tongkat atau batu sampai ia mati, hewan yang jatuh dari tempat yang tinggi, atau terjatuh ke dalam sumur lalu ia mati, dan hewan yang ditanduk oleh hewan lain sehingga ia mati. Allah juga mengaharamkan hewan yang dimangsa binatang buas seperti singa, harimau, serigala dan yang semisalnya. Allah mengecualikan dari apa yang diharamkan: hewan yang masih mungkin kalian sembelih sebelm ia mati, ia halal bagi kalian. Allah mengharamkan bagi kalian hewan yang disembelih untuk selain Allah, baik dalam bentuk batu atau lainnya yang dipancang untuk disembah. Allah mengharamkan mencari ilmu dari apa yang dibagi untuk kalian atau tidak dibagi dengan sarana mengundi dengan anak panah yang biasa mereka gunakan sebelum mereka melakukan suatu perkara. Hal-hal yang diharamkan diatas, bila ia langgar, merupakan penyimpangan dari perintah Allah dan ketaatan kepada-Nya kepada kemaksiatan. Saat ini harapan orang-orang kafir untuk bisa mengembalikan kalian kepada agama kalian sudah terkubur setelah kalian menang atas mereka, maka jangan takut kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku.

Hari ini Aku menyempurnakan agama kalian, agama Islam dengan mewujudkan kemenangan dan penyempurnaan syariat. Aku menyempurnakan nikmat-Ku atas kalian dengan mengeluarkan kalian dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya iman. Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian, maka peganglah ia, dan jangan meninggalkannya. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan untuk memakan bangkai dan dia tidak memiliki kecenderungan kepadanya dan tidak menginginkannya, maka dia boleh memakannya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka (Tafsir Al-Muyassar).

Artikel, Tafsir

Tafsir Penutup Surat Al-Baqarah

kitabullah

 ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَد مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨٥ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡ نَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٨٦ ﴾ [ البقرة: ٢٨٥-٢٨٦]

“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul -Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul -Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami ta’at.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”  (QS al-Baqarah: 285-286)

“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman”. (QS al-Baqarah: 285).

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya: “Firman Allah ta’ala: “Demikian pula orang-orang beriman”. Merupakan athaf (kata sambung) dari  “Rasul”. Selanjutkan Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan tentang keberadaan semuanya, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:
“Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat -Nya, kitab-kitab -Nya dan rasul-rasul -Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”. (QS al-Baqarah: 285).

Orang-orang yang beriman mengimani bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah satu dan esa, sendiri tidak beranak pianak, yang tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan diri-Nya, yang tidak ada Rabb selain diri -Nya. Begitu pula mereka mempercayai dengan seluruh para Nabi dan para Rasul, selanjutnya mengimani dengan kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah ta’ala dari langit kepada para hamba -Nya dari kalangan para Rasul dan Nabi. Mereka tidak membedakan antara satu rasul dengan yang lainnya. Sehingga beriman kepada sebagian lalu mengingkari sebagian yang lain, akan tetapi bagi mereka semuanya sama, benar adanya, mengajak kepada kebaikan, yang memperoleh petunjuk, serta memberi petunjuk kepada jalan kebenaran, walaupun ada diantara mereka yang menghapus syari’at yang lainnya, namun, tentunya dengan izin -Nya.
Sampai akhirnya, semua dihapus dengan syari’at Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penutup para Nabi dan Rasul hingga tegak hari kiamat, syari’at ini berada pada agamanya. Dan senantiasa akan tetap ada sekelompok dari umatnya yang berada diatas kebenaran.”

Selanjutnya Allah ta’ala ber firman akan keadaan orang-orang yang beriman tadi:
“Dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami ta’at.” (QS al-Baqarah: 285).
Maksudnya kami mendengar firman -Mu wahai Rabb kami, dan kami memahaminya, lalu kami mengerjakan serta mentaati dengan mengamalkan isi yang terkandung dalam firman -Mu.
Lalu mereka berdo’a:
“Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (QS al-Baqarah: 285).
Mereka memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla ampunan, rahmat serta kasih saying -Nya. Dan tempat kembali itu hanya kepada -Mu kelak pada hari pembalasan.
Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS al-Baqarah: 286).
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:
“Tatkala Allah ta’ala menurunkan firman -Nya yang bunyinya:
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”.  (QS al-Baqarah: 284). Sampai akhir ayat.
Maka para sahabat merasa keberatan akan hal tersebut, sehingga mereka mendatangi Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mereka menderum diatas tunggangannya. Lalu berkata: “Wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kami telah dibebani dengan amalan yang kami masih sanggup mengerjakannya, seperti sholat, puasa, jihad, dan sedekah. Dan sungguh telah diturunkan kepadamu ayat ini yang kami tidak sanggup untuk mengerjakannya. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Apakah kalian hendak meniru ucapan seperti yang dulu pernah diucapkan oleh ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) sebelum kalian, yang mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami ingkari? Akan tetapi, ucapkanlah: ‘Kami mendengar dan kami taat, ampunilah kami wahai Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.
Lantas para sahabat mengatakan: “Kami mendengar dan taat, ampunilah kami wahai Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Dan manakala hal tersebut baru saja mereka lakukan, sampai kiranya belum kering lisan-lisan mereka, Allah ta’ala menurunkan setelah ayat tersebut, firman-Nya:
“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami ta’at.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”  (QS al-Baqarah: 285).

Ketika mereka mematuhi dan mengerjakan hal tersebut, maka Allah menghapus dengan menurunkan ayat berikutnya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah”. (QS al-Baqarah: 286).
Selanjutnya dijawab oleh Allah ta’ala: ‘Iya’.

Selanjutnya mereka berdo’a:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami”. (QS al-Baqarah: 286).
Allah ta’ala menjawab: ‘Ya’.

Lalu mereka berdo’a kembali:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya”. (QS al-Baqarah: 286)
Allah ta’ala menjawab: ‘Ya’.

Kemudian mereka menutup do’anya:
“Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”  (QS al-Baqarah: 286).
Allah menjawab: ‘Ya’. (HR Muslim no: 125)

Didalam firmannya Allah tabaraka wa ta’ala:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS al-Baqarah: 286).

Maksudnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak membebani seseorang diluar batas kemampuannya. Ini menunjukan tentang kasih sayangnya Allah ta’ala kepada para makhluk -Nya, serta kebaikan yang diberikan pada mereka.

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:
“Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS al-Baqarah: 286).

Artinya ia akan memperoleh pahala dari kebaikan yang dulu pernah dilakukan, begitu pula akan mendapat siksa atas perbuatan jeleknya. Dan semua itu, masih masuk pada kisaran amalan yang dibebankan pada mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengampuni atas umatku dari perkara yang baru timbul dalam hatinya selagi belum ia kerjakan atau bicarakan”. HR Bukhari no: 5269. Muslim no: 127.

Selanjutnya Allah ta’ala berfirman menjelaskan keadaan orang-orang yang beriman tersebut:
“(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah”. (QS al-Baqarah: 286).

Maksudnya apabila kami meninggalkan kewajiban disebabkan karena lupa, atau jika kami mengerjakan perkara yang haram dalam keadaan lupa. Atau ketika kami keliru, sehingga salah dalam mengerjakannya, tidak sesuai dengan apa yang disyari’atkan disebabkan kebodohan kami. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah memberi keringanan atas umatku ketika salah, lupa dan perkara yang dipaksakan atas mereka”. HR Ibnu Majah no: 2043. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah 1/347 no: 1662.

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla melanjutkan firman -Nya:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami”. (QS al-Baqarah: 286).

Artinya Ya Allah janganlah kami dibebani dengan amalan-amalan yang berat, sekalipun kami masih mampu untuk melakukannya, sebagaimana Engkau syari’atkan pada umat-umat terdahulu sebelum kami dengan dibelenggu dan diikat. Sebagaimana Engkau mengutus Nabi -Mu Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi pembawa rahmat, yang telah Engkau jadikan sebagai ciri yang menonjol dalam syari’atnya, sebagaimana Engkau telah mengutusnya dengan membawa agama yang lurus, yang penuh dengan kemudahan dan toleransi.

Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya”. (QS al-Baqarah: 286).

Maksudnya dari beban kewajiban-kewajiban, musibah serta bencana. Janganlah Engkau beri kami musibah atau bencana dari perkara yang kami tidak sanggup menanggungnya.
Berikutnya Allah ta’ala berfirman:
“Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami”. (QS al-Baqarah: 286).

Artinya ma’afkanlah kami dari dosa yang kami lakukan kepada -Mu, dari perkara yang Engkau telah mengetahuinya disebabkan kekurangan serta kekhilafan kami. Lalu ampunilah kami dari dosa yang kami kerjakan antara kami dan hamba -Mu. Janganlah Engkau perlihatkan atas mereka perbuatan buruk kami. Kemudian rahmatilah kami dari perkara yang akan datang, dan jangan Engkau cabut taufik -Mu disebabkan dosa yang lainnya.

Lalu Allah ta’ala berfirman:
“Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”  (QS al-Baqarah: 286).

Artinya Engkaulah tempat kembali dan sebagai penolong kami, hanya kepada-Mu kami bersandar, tempat memohon pertolongan, bertawakal, yang tidak ada daya serta kekuatan melainkan diri -Mu. Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Yang mengingkari agama -Mu, serta mengingkari ke Esaan Dirimu, dan risalah yang dibawa oleh Nabi -Mu. Yang mana justru mereka menyembah kepada selain Dirimu dan menyekutukan -Mu didalam ibadah bersama yang lainnya. Maka tolonglah kami atas mereka, jangan jadikan kemenangan atas mereka di dunia dan diakhirat.
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

Penulis: Syaikh Amin bin Abdullah Asy-Syaqawi
Penerjemah: Abu Umamah Arif Hidayatullah

Artikel, Tafsir

Tafsir Al Quran Surat Ali-Imran 133-136

Bismillah, pecinta radio Kita FM Rohimakumullah.. berikut ini kami sajikan pembahasan tafsir yang disusun oleh Ustadz Muhammad Toharo, Lc Hafidzahullah.. dari pembahasan tafsir Surat Ali Imran ayat 133-136.  Semoga bermanfaat bagi kita semuanya..

Artinya:

[133] Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

[134] (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

[135] Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

[136] Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Al-Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya secara ringkasnya sebagai berikut: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan bahwa luas surga yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala janjikan adalah seluas langit dan bumi yang berbentuk bulat di bawah Arsy yang mana sesuatu yang bulat itu panjang dan lebarnya sama, hal ini sebagaimana yang diterangkan dalam hadits shahih::

إِذَاسَأَلْتُمُاللهَالجَنَّةَفَاسْأَلُوْهُالفِرْدَوْسَفَإِنَّهُأَعْلَىالجَنَّةِوَأَوْسَطُالجَنَّةِوَمِنْهُتَفَجَّرُأَنْهَارُالجَنَّةِوَسَقْفُهَاعَرْشُالرَّحْمَانِ

“Apabila kalian meminta surga kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka mintalah kepadanya surga firdaus karena ia adalah surga yang tertinggi dan paling tengah yang mana darinya terpancar (mata air) sungai – sungai surga, sedangkan atapnya adalah Arsy Allah yang Maha Pemurah.”

Dalam musnad Imam Ahmad bahwa sesungguhnya Raja Heraklius menulis surat kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam, ia berkata :”

إِنَكَدَعَوْتَنِيإِلَىجَنَةٍعَرْضُهَاالسَّمَوَاتِوَالأَرْضِفَإَيْنَالنَّارُ؟

فَقَالَالنَّبِيُ : سُبْحَانَاللهِ ! فَأَيْنَاللَّيْلُإِذَاجَاءَالنَّهَارُ؟

“Sesungguhnya engkau mengajakku ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi, maka di mana letak neraka? Maka Nabi shalallahualaihiwasalam bersabda : “Maha Suci Allah! Lalu di mana letak malam jika datang siang?

Hal ini memiliki dua pemahaman, yang pertama yaitu: tidak mesti hanya dengan sebab kita tidak melihat malam jika datang siang itu berarti malam tidak ada di tempat, sekalipun kita tidak mengetahuinya. Begitu juga neraka, dia berada di suatu tempat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kehendaki, dan pemahaman ini nampak lebih jelas sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah a dari Al-Bazzar.

Sedangkan pemahaman yang kedua adalah bahwa sesungguhnya siang bila meliputi wajah alam dari sisi ini, maka malam berada di sisi yang lain begitu juga surga yang beradadi A’la Iliyyin (tempat tertinggi) di atas langit dan di bawah Arsy dan luasnya seluas langit dan bumi maka neraka berada di Asfala Safilin (tempat yang paling bawah).

Maka tidak bertentangan antara keberadaan surga yang seluas langit dan bumi dengan keberadaan neraka. Wallahua’lam.

Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan sifat orang yang bertaqwa yang akan menjadi penghuni surga tersebut, yaitu orang– orang yang gemar berinfak baik di saat jembar ataupun krisis atau selalu berinfak  dalam keadaan apapun dan di semua keadaan. Juga mereka adalah orang–orang yang menahan amarah serta memaafkan  kesalahan orang lain.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

لَيْسَالشَدِيْدُبِالصُّرْعَةِوَلَكِنَّالشَّدِيْدُالَّذِييَمْلِكُنَفْسَهُعِنْدَالْغَضَبِ

Bukanlah orang yang kuat itu (menang) saat berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan dan menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdurrazzak dan seterusnya dari seorang sahabat Nabi, ia berkata, telah berkata seorang lelaki :

يَارَسُوْلَاللهِ! أَوْصِنِيقَالَ : لاَتَغْضَبْقَالَالرَّجُلُ : فَفَكَرْتُحِيْنَقَاَلَصَلَىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَمَاقَالَ : فَإِذَاالغَضَبُيَجْمَعُالشَّرَكُلَّهُ (رواهأحمد)

Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam berilah aku wasiat.  Maka Nabi bersabda : “Janganlah kamu marah” Lalu lelaki itu berkata, ”maka aku berfikir ketika Nabi berwasiat tersebut maka (aku temukan) bahwa ternyata kemarahan itu mengumpulkan (dan menyebabkan) terjadinya semua keburukan.” (HR. Ahmad)

Dari Abu Dzar Al Gifari a ia berkata :

إِنَّرَسُوْلُاللهِقَالَلَنَا : إِذَاغَضِبَأَحَدُكُمْوَهُوَقَائِمٌفَلْيَجْلِسْفَإِنْذَهَبَعَنْهُالغَضَبُوَإِلاَّفَلْيَضْطَجِعْ

Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda kepada kami :”Apabila salah seorang diantara kalian marah  sedangkan dia dalam posisi berdiri maka hendaklah dia segera duduk, jika kemarahan sudah hilang maka cukup tapi kalau masih belum hilang juga maka hendaklah berbaring.” (HR. Abu Dawud)

Dan pernah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

إِنَّالْغَضَبَمِنَالشَيْطَانِوَإِنَّالشَّيْطَانَخُلِقَمِنَالنَّارِوَإِنَّمَاتُطْفَأُالنَّارُبِالْمَاءِفَإِذَاأُغْضِبَأَحَدُكُمْفَلْيَتَوَضَأَ

Sesungguhnya marah itu dari setan dan sesungguhnya setan diciptakan dari api dan api itu bisa di padamkan dengan air, maka bila salah seorang  diantara kalian  dibikin marah (oleh syaiton) maka berwudulah.” (HR. Abu Dawud)

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas Radiyallahu’anhu berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

مَنْكَظَمَغَيْظًاوَهُوَقَادِرٌعَلَىأَنْيُنْفِذَهُدَعَاهُاللهُعَلَىرُؤُوْسِالْخَلاَئِقِحَتَّىيُخَيِّرُهُمِنَأَيِالحُوْرِشَاءَ

“Barang siapa yang mampu menahan emosi kemarahannya walaupun dia sebetulnya bisa untuk melampiaskannya maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memanggilnya dihadapan khalayak ramai sehingga ia dipersilahkan untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Juga Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

مَنْكَظَمَغَيْظًاوَهُوَيَقْدِرُعَلَىإِنْفَاذِهِمَلَأَهُاللهُأَمْنًاوَإِيْمَانًا

Barangsiapa yang mampu menahan emosi kemarahannya walaupun dia sebetulnya mampu untuk melampiaskannya maka, Allah akan memenuhi orang tersebut dengan rasa aman dan keimanan.” (HR Ibnu Jarir).

Begitu pula sifat orang yang bertaqwa sebagai calon penghuni surga adalah senantiasa berbuat kebaikan seperti yang telah di terangkan diatas juga hal – hal yang lainnya dari apa yang disyariatkan seperti juga sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam:

ثَلاَثٌأَقْسِمُعَلَيْهِنَّ : مَانَقَصَمَالٌمِنْصَدَقَةٍوَمَازَادَاللهُعَبْدًابِعَفْوٍإِلاَّعِزًاوَمَنْتَوَاضَعَلِلهِرَفَعَهُاللهُ

Ada tiga perkara yang aku berani bersumpah atasnya. yaitu :”Tidak akan berkurang harta dengan sebab sedekah, dan tidaklah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menambahkan kepada hamba dengan sebab dia pemaaf melainkan kemulian dan barangsiapa yang bersikap tawadhu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat dan meninggikan (derajat kemuliaan-nya)”.

Al-Imam Ahmad meriwayatkan hadits shohih dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

إِنَّرَجُلاًأَذْنَبَذَنْبًافَقَالَ : رَبِّإِنِّيأَذَنَبْتُذَنْبًافَاغْفِرْهُ. فَقَالَاللهُ : عَبْدِيعَمِلَذَنْبًافَعَلِمَأَنَّلَهُرَبًايَغْفِرُالذَّنْبَوَيَأْخُذُبِهِقَدْغَفَرْتُلِعَبْدِيثُمَعَمِلَذَنْبًااَخَرَفَقَالَ : رَبِّإِنِّيعَمِلْتُذَنْبًافَاغْفِرْهُ. فَقَالَتَبَارَكَوَتَعَالَى : عَلِمَعَبْدِيأَنَّلَهُرَبًايَغْفِرُالذَنْبَوَيَأْخُذُبِهِقَدْغَفَرْتُلِعَبْدِثُمَّعَمِلَذَنْبًااَخَرَفَقَالَ : رَبِّإِنِّيعَمِلْتُذَنْبًافَاغْفِرْهُفَقَالَتَعَالَى : عَبْدِعَلِمَأَنَّلَهُرَبًايَغْفِرُالذَّنْبَوَيَأْخُذُبِهِ, أُشْهِدُكُمْأَنِّيقَدْغَفَرْتُلِعَبْدِيفَلْيَعْمَلْمَاشَاءَ

Sesungguhnya seorang laki – laki berbuat dosa lalu berkata: “Wahai Tuhanku sesungguhnya aku berbuat dosa maka ampunilah. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata : “Hambaku berbuat dosa lalu ia tahu bahwa ia memiliki Tuhan  yang  Maha Mengampuni dosa dan ia merealisasikannya, sesungguhnya Aku telah ampuni hambaku tersebut. Kemudian ia pun berbuat dosa lagi dosa yang lainnya lalu berkata : “Wahai Tuhanku sesungguhnya aku berbuat dosa maka ampunilah, maka Allah Tabaroka wa Ta’ala berkata: “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia punya Tuhan yang Maha Pengampun lalu ia pun merealisasikannya: “Sesungguhnya telah aku ampuni hamaku. Kemudian ia melakukan dosa  yang lainnya lagi, dan ia berkata : “Wahai Tuhanku sesungguhnya aku berbuat dosa, maka ampunilah. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata lagi : “Hamba-Ku tahu bahwa ia punya Tuhan yang Maha Pengampun dan ia merealisasikannya.” Maka Aku mempersaksikan kepada kalian semua bahwa sesungguhnya Aku sungguh telah mengampuni hamba-Ku maka silahkan dia lakukan  apa yang dia kehendaki.”

Begitu pula Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Ya’la meriwayatkan dari Abu bakar Radiyallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam berkata :

عَلَيْكُمْبِلاَإِلَهَإِلاَّاللهُوَالاِسْتِغْفَارِفَاكْثِرُوْامِنْهُمَافَإِنَّإِبْلِيْسَقَالَ : أَهْلَكْتُالنَّاسَبِالذُّنُوْبِوَأَهْلَكُوْنِيبِلاَإِلَهَإِلاَّاللهُوَالْاِسْتِغْفَارِفَلَمَّارَأَيْتُذَلِكَأَهْلَكَأَهْلَكْتُهُمْبِالْأَهْوَاءِفَهُمْيِحْسَبُوْنَأَنَّهُمْمُهْتَدُوْنَ

Hendaklah kalian membaca Laailaaha illallah َdan istigfar lalu perbanyaklah membaca keduanya karena iblis berkata : “Aku telah membinasakan manusia dengan dosa sedangkan mereka membinasakanku dengan Laailaaha illallah, istigfar, lalu tatkala aku mengetahui demikian maka aku binasakan mereka dengan (mengikuti) hawa nafsu maka akhirnya mereka menyangka dan merasa bahwa sesungguhnya mereka itu sedang mendapatkan petunjuk (dan sedang berada diatas kebenaran”.)

Selesai sampai disini perkataan Ibnu Katsir yang telah diringkas. Begitulah  sifat-sifat orang yang bertaqwa sebagai calon ahli surga mereka senantiasa berinfak dalam keadaan apapun, menahan emosinya dan tidak mudah marah, menjadi pemaaf, selalu berbuat kebaikan dan kalaupun terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat atau kemungkaran  maka mereka segera bertaubat dan mohon ampunan kepada Allah lalu berusaha dan bertekad untuk meninggalkannya maka Allah pun akan membalasi mereka dengan sorga yang penuh kenikmatan dan ampunan serta rahmat dan keridoan-Nya. Semoga bermanfaat ..

Disusun oleh Ustadz Muhammad Toharo, Lc. Beliau adalah Pimpinan Ponpes Assunnah Cirebon dan Pemateri di Radio Sunnah Kita FM. Dari Majalah Al Bayan Edisi 8.

Artikel, Tafsir

Tafsir Surat Al-Munafiquun Ayat 9 – 11

Bismillah, pecinta Radio Kita FM rahimakumullah.. pada kesempatan kali ini kita akan mengetahui bagaimana tasir dari Surat Al Munafiquun ayat 9-11 dimana dalam ayat-ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala  menerangkan tentang harta dan anak-anak merupakan salah satu sumber fitnah yang akan menjadi ujian kepada kita sehingga kita lalai dari dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga bermanfaat!

Read the rest of this entry