Ramadhan Archive

Aqidah, Bimbingan Islam, Informasi, Kajian, Kajian Islam, Kajian Radio Kita FM, Pemateri, Ramadhan, Tanya Jawab, Ustadz Arif Budiman

[Kajian Mp3] Istiqomah Setelah Ramadhan – Ustadz Arif Budiman Lc

istiqomah

 

 

Istiqomah Setelah Ramadhan 

Bersama Ustadz Arif Budiman,Lc

Berikut Cara mendownload Kajian mp3 :

- Langkah Pertama


klik play

- Langkah Kedua

klik TOMBOL DOWNLOAD

 

 

 

 

Informasi, Kajian, Kajian Islam, Kajian Radio Kita FM, Ramadhan, Tanya Jawab, Tanya Jawab, Ustadz Indra Sudrajat

[kajian Mp3] Hakekat Malam Lailatul Qadar

lailatul qodar

 

 

Untuk dapat bisa menyimak  kajian Mengenai Hakekat malam Lailatul Qadar bersama ustadz Indra Sudrajat, Mari Kita simak Playlist Rekaman DiBawah ini. Dengan Cara menekan tombol Play di Bawah ini.

Atau anda Bisa mengunduh kajiaNya dengan melalui Link yang kami sediakan sebagai berikut   “Klik DiSINI”.

Informasi, Kajian, Kajian Islam, Kajian Radio Kita FM, Ramadhan, Tanya Jawab

[Kajian MP3] Orang-Orang Yang diberikan Rukhsah (kemudahan) untuk tidak berpuasa (Ustadz Arif Budiman Lc)

ramadhan5

 

 (Penulis sangat menyarankan sekali untuk lebih utama mendengarkan kajianya untuk menghidari apabila terjadi kesalahan.)

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….”. (QS.Al-Baqarah : 185). Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Rahman, suka memberikan rukhsah kepada hamba-hambaNya, selama ada udzur (alasan) yang syar’i. Berikut ini disampaikan udzur syar’i untuk tidak berpuasa Ramadhan.

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….”. (QS.Al-Baqarah : 185). Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Rahman, suka memberikan rukhsah kepada hamba-hambaNya, selama ada udzur (alasan) yang syar’i. Berikut ini disampaikan udzur syar’i untuk tidak berpuasa Ramadhan. 

1. Musafir (orang yang bepergian). 
Banyak hadits shahih membolehkan musafir untuk tidak berpuasa, kita tidak lupa bahwa rahmat ini disebutkan di tengah-tengah kitab-Nya yang Mulia, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman : “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. [Al-Baqarah : 185]. 
Hamzah bin Amr Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apakah boleh aku berpuasa dalam safar ?” (ia banyak melakukan safar) maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berpuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau”. [HR. Bukhari dan Muslim]. 
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa” [HR. Bukhari dan Muslim]. 

Hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya memilih, tidak menentukan mana yang afdhal, namun mungkin kita (bisa) menyatakan bahwa yang afdhal adalah berbuka berdasarkan hadits-hadits yang umum, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah menyukai didatanginya rukhsah yang diberikan, sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat”. [HR. Ahmad, Ibnu Hibban dari Ibnu Umar dengan sanad yang Shahih]. 
Dalam riwayat lain disebutkan : “Sebagaimana Allah menyukai diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan”. [HR. Ibnu Hibban, Al-Bazzar, At-Thabrani dalam Al-Kabir dari Ibnu Abbas dengan sanad yang Shahih]. 

Tetapi mungkin hal ini dibatasi bagi orang yang tidak merasa berat dalam mengqadha’ dan menunaikannya, agar rukhshah tersebut tidak melenceng dari maksudnya. Hal ini telah dijelaskan dengan gamblang dalam satu riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu. 
“Para sahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat kemudian puasa (maka) itu baik (baginya), dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka (maka) itu baik (baginya)”. [HR. Tirmidzi, Al-Baghawi dari Abu Said, sanadnya Shahih]. 

Ketahuilah saudaraku seiman, mudah-mudahan Allah membimbingmu ke jalan petunjuk dan ketaqwaan serta memberikan rizki berupa pemahaman agama, sesungguhnya puasa dalam safar, jika memberatkan hamba bukanlah suatu kebajikan sedikitpun, tetapi berbuka lebih utama dan lebih dicintai Allah. Yang mejelaskan masalah ini adalah riwayat dari beberapa orang sahabat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar”. [HR. Bukhari dan Muslim dari Jabir]. 

Peringatan : 
Sebagian orang ada yang menyangka bahwa pada zaman kita sekarang ini tidak diperbolehkan berbuka (pada saat safar), sehingga (berakibat ada yang) mencela orang yang mengambil rukhsah tersebut, atau berpendapat bahwa puasa itu lebih baik karena mudah dan banyaknya sarana transportasi saat ini. Orang-orang seperti ini perlu kita usik ingatan mereka kepada firman Allah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata : 
“Dan tidaklah Tuhanmu lupa”. [Maryam : 64]. 
“Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”. [Al-Baqarah : 232]. 
Dan firman-Nya di tengah ayat tentang rukhshah berbuka dalam safar : “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. [Al-Baqarah : 185]. 
Yakni, kemudahan bagi orang yang safar adalah perkara yang diinginkan, ini termasuk salah satu tujuan syari’at. Cukup bagimu bahwa Dzat yang mensyari’atkan agama ini adalah pencipta zaman, tempat dan manusia. Dia lebih mengetahui kebutuhan manusia dan apa yang bermanfaat bagi mereka. Allah berfirman : “Apakah Allah Yang Menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan kamu rahasiakan), dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui ?” [Al-Mulk : 14]. 

Aku (penulis) bawakan masalah ini agar seorang muslim tahu jika Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan suatu perkara, tidak ada pilihan lain bagi manusia, bahkan Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mukmin yang tidak mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Allah dan Rasul-Nya : “Kami dengar dan kami taat, (Mereka berdo’a) : “Ampunilah kami yang Tuhan kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali” [Al-Baqarah : 285]. 

2. Sakit. 
“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. [Al-Baqarah : 185]. Allah membolehkan orang yang sakit untuk berbuka sebagai rahmat dari-Nya, dan kemudahan bagi orang yang sakit tersebut. Sakit yang membolehkan berbuka adalah sakit yang apabila dibawa berpuasa akan menyebabkan suatu madharat atau menjadi semakin parah penyakitnya atau dikhawatirkan terlambat kesembuhannya. Wallahu a’lam. 

3. Haid dan nifas. 
Ahlul ilmi telah bersepakat bahwa orang yang haid dan nifas tidak dihalalkan berpuasa, keduanya harus berbuka dan mengqadha, kalaupun keduanya puasa (maka puasanya) tidak sah. 

4. orang yang Sudah Lanjut usia yang sudak tidak sangup lagi untuk berpuasa  
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata : “Kakek dan nenek yang lanjut usia, yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin” [HR. Bukhari, lihat Syarhus Sunnah, Fathul bari, Nailul Authar, Irwaul Ghalil. Ibnul Mundzir menukil dalam Al-Ijma’ akan adanya ijma (kesepakatan) dalam masalah ini]. 

Diriwayatkan oleh Daruquthni dan dishahihkannya, dari jalan Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas, beliau membaca ayat : “Orang-orang yang tidak mampu puasa harus mengeluarkan fidyah makan bagi orang miskin” [Al-Baqarah : 184]. Kemudian beliau berkata : “Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudian berbuka, harus memberi makan seorang miskin setiap harinya 1/2 gantang gandum”. 
Dari Anas bin Malik (bahwa) beliau lemah (tidak mampu untuk puasa) pada satu tahun, kemudian beliau membuat satu wadah Tsarid dan mengundang 30 orang miskin (untuk makan) hingga mereka kenyang. [HR. Daruquthni, sanadnya shahih]. 

5. Wanita hamil dan menyusui. 
Di antara rahmat Allah yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang lemah adalah Allah memberi rukhsah (keringanan) pada mereka untuk berbuka, dan diantara mereka adalah wanita hamil dan menyusui. 
Dari Anas bin Malik [1], ia berkata : “Kudanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami, akupun mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku temukan beliau sedang makan pagi, beliau bersabda, “Mendekatlah, aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menggugurkan 1/2 shalat atas orang musafir, menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa”. Demi Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengucapkan keduanya atau salah satunya. Aduhai sesalnya jiwaku, kenapa aku tidak (mau) makan makanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [HR. Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, sanadnya Hasan].

Untuk lebih jelasnya, Mari kita simak di bawah ini adalah sebuah  Rekaman kajian dengan materi “Orang – Orang yang diberikan Rukhsah untuk tidak berpuasa di Bulan Ramadhan” bersama Ustad Arif Budiman, Lc

Atau Kita Bisa mengunduh kajiaNya dengan cara  Klik DiSINI.

Artikel, Ramadhan

Adab-adab Wajib Dalam Berpuasa

Segala puji bagi Allah yang memberi petunjuk makhluk-Nya kepada kesempurnaan adab, membukakan pintu rahmat dan kemurahan-Nya dari segala penjuru, menerangi akal kaum muslimin untuk menemukan kebenaran dan mencari ganjaran, membutakan akal orang-orang yang berpaling dari ketaatan, sehingga terbentanglah hijab antara dia dan cahaya Allah. Sebagian mendapat hidayah dengan keutamaan dan rahmat-Nya sedangkan sebagian yang lain tersesat dengan keadilan dan kebijakan-Nya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kerajaan, dia Maha Perkasa lagi Maha Pemurah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus dengan membawa ibadah yang mulia dan kesempurnaan adab. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada beliau, kepada segenap kerabat dan sahabat, dan kepada orang-orang yang mengikuti beliau dengan benar sampai kelak hari kiamat.

Read the rest of this entry

Ramadhan

Mencari Malam Lailatul Qadr

Bismillah..

Pecinta Radio Kita FM Rahimakumullah .. Kini kita sudah berada di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Banyak sekali amalan yang bisa kita lakukan untuk mengisi hari-hari di penghujung bulan Ramadhan ini. Di sepuluh hari terakhir Ramadhan, kita juga bisa mencari malam lailatul qadr, Apakah Anda sudah mengetahui apa itu malam lailatul qadr?  Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadr:1-3)

Read the rest of this entry

Artikel, Ramadhan

Hikmah-Hikmah Puasa

Segala puji bagi Allah, pengatur malam, bilangan hari, bulan, dan tahun. Dia-lah Maharaja, Mahasuci, serta Pemberi keselamatan. Hanya Dia-lah yang memiliki segala keagungan an kekekalan. Dia tersucikan dari kekurangan dan penyerupaan dengan manusia. Dia melihat apa saja yang ada didalam urat dan tulang, serta mendengar ucapan yang tersembunyi dari ucapan yang halus. Dia-lah Ilah yang Maha Pengasih Yang banyak memberikan nikmat dan Rabb Mahakuasa Yang Mahakeras balasannya. Dia mentaqdirkan segala urusan dan melangsungkannya di atas sebaik-baik aturan, serta menetapkan berbagai syariat dan mengokohkannya dengan sekokoh-kokohnya. Dengan kekuasaan-Nya angin yang menjalankan awan berhembus, serta dengan hikmah dan rahmat-Nya terjadi perputaran hari, siang dan malam.

Aku memuji-Nya atas keagungan sifat-Nya dan keindahan nikmat-Nya, serta aku bersyukur kepada-Nya sebagai mana syukurnya orang yang meminta serta mengharap tambahan karunia-Nya.

Read the rest of this entry