Pendidikan Anak Archive

Artikel, Pendidikan Anak

Etika Memberi Nama Bag.2

anak

Di postingan yang telah lalu, kita sudah mengetahui sebagian etika dalam memberi nama untuk buah hati kita. Berikut ini adalah kelanjutan dari adab dan etika dalam memberi nama, dimana salah satu kewajiban bagi seorang Ayah adalah memilihkan nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai syariat dan lisan Arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh pendengaran, akan tetapu nama itu tidak sesuai dengan syari’at.

Berikut ini adalah beberapa etika dan adab ketika memberi nama:

  1. Disukai memberikan nama kepada anak dengan dua suku kata, misalnya Abdullah dan Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan lain-lain.
  2. Disukai memberikan nama kepada anak dengan nama-nama yang menunjukkan penghambaan kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah (Asmaul Husna), misalnya Abdurrahman, Abdul Ghaniy, dan lain-lain.
  3. Disukai memberikan nama kepada anak dengan nama-nama para Nabi. Diriwayatkan dari Yusuf bin AbdisSalam, ia berkata, “Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan nama kepadaku Yusuf.” (Riwayat Bukhari). Berkata Ibnul Qoyim Al-Jauziyah, ” Dan yang benar tentang pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad) adalah boleh sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang (Muhammad Abul Qosim) dan pelarangan menggunakan kunyah-nya pada saat beliau Shallahu ‘alaihi wassalam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan nama kunyah beliau Shallahu ‘alaihi wassalam juga terlarang.
  4. Memberikan nama kepada seorang anak dengan nama-nama orang shalih dari kalangan muslimin. Telah Tsabit dari hadits Mughirah bin Syu’bah dari Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam ia bersabda, ” Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para Nabi dan orang-orang shalih.” (Riwayat Muslim)

SYARAT-SYARAT PEMBERIAN NAMA

  1. Nama tersebut menggunakan bahasa Arab
  2. Nama tersebut dibangun dengan makna yang baik secara bahasa dan syari’at, sehingga tidak boleh menggunakan nama-nama yang makruh atau haram baik dari segi lafadz ataupun maknanya.

NAMA-NAMA YANG DIHARAMKAN

Memberi nama kepada anak hendaknya tidak memberinya dengan nama-nama yang diharamkan Allah. Adapun nama-nama yang diharamkan adalah:

  1. Penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik dari matahari, patung, manusia, dan selainnya misalnya Abdur Rosul (hamba Rosul), Abdun Nabi (Hamba Nabi), Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), Abdus Syamsu (hamba matahari), dan lain-lain
  2. Memberi nama dengan nama-nama Allah, misal: Rahim, Rahman, Khalik, dan lain-lain.
  3. Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
  4. Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesuatu sesembahan selain Allah, misalnya Al-Lat, al-Uzza, dan lain-lain.
  5. Memberi nama dengan nama-nama asing yang berasa dari Turki, Faris, Bar-bar, dan lain-lain.
  6. Setiap nama yang memuji (tazkiyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, ” Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (raja diraja).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  7. Memberi nama dengan nama-nama setan, misal al-Ajda’ dan lain-lain.

NAMA-NAMA YANG DIMAKRUHKAN

Selain ada nama-nama yang diharamkan, ada pula nama-nama yang dimakruhkan. Berikut ini nama-nama yang dimakruhkan:

  1. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, pezina dan lain-lain.
  2. Dimakruhkan memberikan nama anak dengan nama-nama perbuaan-perbuatan jelek atau maksiat.
  3. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama pengikut Fir’aun: Misal Fir’un, Qarun, Haman.
  4. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang dikenal dengan sifat jeleknya, misalkan: Anjing, Keledai, dan lain-lain.
  5. Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai lafadz terhadap “agama” dan lafadz “Islam”, misal Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam, dan lain-lain.
  6. Dimakruhkan memberi nama-nama ganda, misalnya Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id.
  7. Para ulama memakruhkan memberi nama-nama surat dalam AlQuran misalnya, Yasin, Thaha, dan lain-lain.

Adapun jalan keluar dari pemberian nama-nama yang diharamkan dan dimakruhkan adalah dengan mengubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam mengubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik. ” (Riwayat at-Tarmidzi) semoga bermanfaat.

(Dari Rubrik Adab dan Akhlaq Ya Bunayya Majalah Sakinah) (ys-aa)

Artikel, Pendidikan Anak

Etika Memberi Nama Bag.1

mendidik buah hati

Alhamdulillah.. sang buah hati kini sudah lahir dan melihat dunia. Puji syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sudah memberikan amanah buah hati yang sehat dan lucu kepada setiap orang tua. Salah satu kewajiban orang tua ketika anak lahir adalah memberi nama yang baik untuk sang anak.

Nama adalah ciri atau tanda. Maksudnya, orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Nama juga merupakan tanda yang dapat mengungkap identitas orang tuanya dan alat pengukur terhadap pemahaman agamanya.

HUKUM PEMBERIAN NAMA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuntunkan kepada keturunan Adam untuk memberikan nama pada anak, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi nama “Yahya” kepada putra Nabi Zakariyya yang akan dilahirkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang serupa dengannya.” (Maryam: 7)

Anak yang tidak memiliki nama tidak akan dikenal (majhul) dan tersamarkan dengan yang lainnya, tidak bisa dibedakan, karena nama berfungsi untuk menentukan, membedakan, dan mengenali si anak.

WAKTU PEMBERIAN NAMA

Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam telah menjelaskan bahwa waktu pemberian nama itu ada 3 macam:

  1. Pada hari kelahirannya.
  2. Pada hari ketiga dari kelahirannya
  3. Pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Perbedaan ini hanya bersifat ikhtilaf tanawwu’ (perselisihan yang ditoleransi) yang menunjukkan bahwa dalam persoalan ini ada kelonggaran.

YANG BERHAK MEMBERI NAMA

Sang Ayah adalah orang yang paling berhak untuk menamai anaknya. Jika seorang Ayah berbeda pendapat dengan seorang Ibu dalam menentukan nama untuk anaknya, maka Ayah lah sebagai pihak yang diutamakan.

Berdasarkan hal tersebut, maka seorang ibu hendaknya tidak membantah dan menyelisihi. Sementara dalam musyawarah antara kedua orang tua terdapat suatu kesempatan yang luas untuk saling meridhai, berlemah lembut, dan memperkokoh tali hubungan antar keluarga.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan dengan shahih dari sekelompok sahabat bahwa mereka biasa menyodorkan putra-putri mereka kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam agar beliau berkenan memberikan nama. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Ayah hendaknya bermusyawarah dalam memberikan nama dengan seorang ulama yang mengetahui tentang sunnah atau ahlussunnah yang terpercaya dalam agama dan ilmunya agar menunjukkan kepadanya sebuah nama yang baik bagi anaknya.

NISBAH ANAK

Nama seorang anak juga dinisbahkan (disandarkan) kepada ayahnya, bukan kepada ibunya, dan dia dipanggil dengan nama ayahnya, bukan dengan nama ibunya, Maka dalam penulisan nama, biasa disebut “fulan bin fulan”, dan bukan dipanggil “fulan bin fulanah”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Panggillah mereka (anak-anak angkat) itu dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah …” (al-Ahzab:5)

Namun ada kenyataan bahwa terjadi penghilangan lafazh “ibnu” pada nama fulan ibnu fulan dan ini mulai menyebar di kalangan muslimin pada abad 14 Hijriyah, sehingga mereka mengatakan, Misalnya Muhammad ‘Abdullah.

Ini merupakan uslub (tata bahasa) yang dibuat-buat, asing, tidak dikenal oleh bangsa Arab, dan tidak sesuai dengan lisan mereka, bahkan tidak memiliki kedudukan dalam bahasa Arab (I’rab)

Apakah dunia telah mendengar seseorang yang menyebut nasab Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam dengan mengatakan Muhammad ‘Abdullah?

Lihatlah bagaimana penghilangan (lafazh ibnu) ini telah mengundang kesamaran ketika disatukan antara nama laki-laki dengan perempuan, sebagai contoh Asma’ dan Kharijah. Nama ini tidak akan jelas di atas kertas, kecuali dengan menyambungkan nasab dengan lafazh “ibnu” fulan atau “binti” fulan.

Terdapat pula kekeliruan para istri yang menyandarkan namanya kepada suami. Misalnnya Fathimah bin ‘Abdullah, setelah menikah dengan Ahmad maka ia menyandarkan namanya menjadi atimah Ahmad. Ini banyak dijumpai di masyarakat umum.

bersambung,

(Dari Rubrik Adab Akhlaq Yaa Bunayya Majalah Sakinah)

Artikel, Pendidikan Anak

Agar Si Kecil Dekat Dengan Allah

Bismillah..

Sahabat pencinta Radio Kita FM Rohimakumullah.. Menanamkan dan membimbing kebaikan bagi si buah hati semenjak ia masih kecil adalah perkara yang indah. Khususnya perkara ini merupakan kewajiban bagi setiap orang tua. Karena dengan itu, ia akan mengawali catatan pada lembaran putih kehidupannya dengan kedekatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bimbingan yang dilakukan pun harus ditempuh secara bertahap, dimulai dari pengenalan adab-adab (ajaran-ajaran Islam) yang mendasar namun memiliki pengaruh besar yang begitu mendalam seperti yang tertuang dalam hadits berikut:

Read the rest of this entry