Motivasi Islam Archive

Artikel, Motivasi Islam

Akhlak Salafushsholih, Berbakti Kepada Ibu

birrul-walidain1

Dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: ‘Harga pohon kurma di masa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mencapai seribu dirham. Ia berkata: ‘Usamah radhiyallahu ‘anhu[1] mendatangi pohon kurma, lalu menebangnya, mengeluarkan jummar[2]nya dan memberikannya kepada ibunya. Mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang mendorong engkau melakukan hal ini, sedangkan engkau mengetahui harta pohon kurma sudah mencapai seribu dirham.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya ibuku memintanya kepadaku, dan ia tidak meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu melakukannya kecuali aku memberikannya kepadanya.’[3]

Dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata: Muhammad bin Munkadir berkata: ‘Semalam suntuk Umar (maksudnya saudaranya) shalat dan semalam suntuk ia memijat kaki ibuku, dan aku menginginkan malamku seperti malamnya.’[4]

Dari Ibnu Aun, ia berkata: ‘Seorang laki laki mendatangi Muhammad bin Sirin yang sedang berada di sisi ibunya, ia berkata: ‘Bagaimana kondisi Muhammad, apakah ia menderita sesuatu? Mereka menjawab: ‘Tidak, akan tetapi seperti inilah dia apabila berada di sisi ibunya.’[5]

Dari Hisyam bin Hisan, dari Hafshah bin Sirin, ia berkata: ‘Apabila Muhammad masuk kepada ibunya, ia tidak berbicara kepadanya dengan lisannya, seolah olah ia sangat khusyuk kepadanya.’[6]

Dari Ibnu ‘Aun: Sesungguhnya ibunya memanggilnya lalu ia menjawabnya,  ternyata suaranya lebih tinggi dari suara ibunya, maka ia memerdekakan dua orang budak.’[7]

Dari Hisyam bin Hisan, ia berkata: Hudzail bin Hafshah mengumpulkan kayu bakar di musim panas, lalu ia mengupas kulitnya dan mengambil batangannya, lalu membelahnya. Hafshah (binti Sirin, ibunya) berkata:  ‘Dan aku merasakan dingin, maka bila tiba musim dingin, ia datang membawa tungku, meletakkannya di belakangku, sedang aku berada di tempat shalatku, kemudian ia duduk menyalakan kayu bakar yang sudah dikupas dan batangan yang sudah dibelah sebagai bahan bakar yang asapnya tidak menggangguku dan selalu menghangatkan aku. Hal itu berlangsung cukup lama. Ia berkata: Dan di sisinya ada orang yang bisa menggantikannya bila ia menghendaki hal itu. Ia berkata: Terkadang aku ingin pulang, aku berkata: ‘Wahai anakku, pulanglah kepada keluargamu, kemudian aku menyebutkan apa yang kuinginkan, lalu aku meninggalkannya.’

Hafshah[8] berkata: ‘Tatkala ia wafat, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kesabaran kepadanya yang luar biasa, namun aku merasakan sesuatu yang berat yang tidak bisa hilang.’ Ia berkata: Maka tatkala di suatu malam, aku membaca surah an-Nahl, tiba tiba aku sampai pada ayat ini:

﴿وَلاَتَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللهِ ثَمَنًا قَلِيلاً إِنَّمَا عِندَ اللهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ )95( مَاعِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَاعِندَ اللهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ )96(﴾ [النحل: 95-96]

Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah denganharga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. * Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an-Nahl:95-96)

Ia berkata: lalu aku mengulanginya, maka Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan rasa berat yang kurasakan.

Hisyam berkata: Ia (Hudzail) memiliki Unta perahan yang banyak susunya. Hafshah berkata: ‘Ia mengirim kepadaku satu perahan di pagi hari, lalu aku berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya engkau mengetahui bahwa aku tidak meminumnya, aku puasa.’ Ia berkata: ‘Wahai Ummu Hudzail, sesungguhnya sebaik baik susu adalah yang bermalam di tubuh unta, berikanlah minuman ini kepada orang yang engkau kehendaki.’[9]

Abdurrahman bin Ahmad menyebutkan dari bapaknya: Sesungguhnya seorang wanita datang kepada Baqiyy, ia berkata: ‘Sesungguhnya anakku tertawan dan aku tidak berdaya lagi, bisakah engkau menunjukkan kepada orang yang bisa menebusnya, maka sesungguhnya aku kebingungan.’ Ia berkata: ‘Ya, pulanglah sehingga aku melihat perkaranya.’ Kemudian ia menundukkan kepala dan menggerakkan kedua bibirnya. Kemudian setelah beberapa waktu, wanita itu datang bersama anaknya. Ia (sang anak) berkata: ‘Aku berada di bawah kekuasaan seorang raja, ketika aku sedang bekerja, tiba tiba belengguku jatuh. Ia (yang meriwayatkan) berkata: Lalu ia menyebutkan hari dan jam, maka sesuai waktu syaikh tersebut berdoa. Ia berkata: ‘Lalu pengawas kami berteriak, kemudian ia memandang dan kebingungan. Kemudian ia memanggil tukang besi dan mengikatku. Tatkala ia selesai dan aku berjalan, belenggu itu jatuh lagi. Maka mereka kebingungan dan memanggil ulama mereka, mereka berkata: ‘Apakah engkau mempunyai seorang ibu? Aku menjawab: ‘Ya.’ Mereka berkata: ‘Doanya dikabulkan.’

Peristiwa ini diceritakan oleh al-Hafizh Hamzah as-Sahmy, dari Abu Fath Nashr bin Ahmad bin Abdul Malik, ia berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Ahmad, ia berkata: Bapakku menceritakan kepadaku…lalu ia menyebutkannya, dan padanya: kemudian mereka berkata: ‘Allah subhanahu wa ta’ala telah melepaskan engkau, maka kami tidak bisa mengikat engkau.’ Lalu mereka memberi bekal kepadaku dan mengirim aku.’[10]

Oleh:

Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil

Bahauddin bin Fatih Aqil

foot note:

[1]Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan putra orang yang dicintainya. Ibunya Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha pengasuh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

[2]Jummar nakhlah: yaitu lemaknya yang berada di puncak pohon kurma, ia berwarna putih, bagaikan sepotong punuk unta yang besar, biasanya dimakan dengan madu.

[3]Sifat Shafwah 1/522

[4]Sifat Shafwah 2/143

[5]Sifat Shafwah 3/245

[6]Sifat Shafwah 3/245

[7]Siyar A’lam Nubala’ 6/366

[8]Ia adalah Hafshah binti Sirin, seorang ahli ibadah yang agung, saudari Muhammad bin Sirin, ibu Hudzail.

[9]Sifat Shafwat 4/25

[10]Siyar A’lam Nubala` 13/290.

Artikel, Motivasi Islam

Hati-Hati Su’ul Khatimah

berpegang teguh alquran assunnah

Wahai engkau yang berbuat dosa, apa yang engkau ketahui  tentang perhentian?!

Wahai engkau yang berbuat dosa, tidakkah pernah engkau mendengar pembicaraan yang meneror hati orang-orang saleh!

Rasulullah salallahu alaihi wasalam bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن الرجل ليعمل الزمن الطويل بعمل أهل الجنة، ثم يختم له عمله بعمل أهل النار! وإن الرجل ليعمل الزمن الطويل بعمل أهل النار، ثم يختم له عمله بعمل أهل الجنة»  [رواه مسلم]

“Ada orang yang sungguh-sungguh beramal dalam waktu yang lama dengan amalan ahli surga, kemudian menutup amalnya dengan amalan ahli neraka. Dan ada orang yang sungguh-sungguh melakukan amal ahli neraka dalam waktu yang lama, kemudian menutupnya dengan amalan ahli surga.” [HR.Muslim]

Dan sabdanya salallahu alaihi wasalam,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «.. وإنما الأعمال بالخواتيم» [رواه البخاري]

“Sesunggunya amalan dinilai dengan penutupannya.” [HR.al-Bukhari]

Ibnu Rajab berkata, “Singkatnya, penutup amal adalah warisan dari amalan masa lalu dan semua itu telah ada pada catatan takdir terdahulu. Dari inilah bertambah ketakutan salaf akan su’ul khatimah. Diantara mereka ada yang cemas menyebut-nyebut masa lalunya.”

Hatim al-Asham berkata, “Siapa yang hatinya kosong dari mengingat empat saat yang membahayakan, maka dia tertipu dan tidak terhindar dari kesengsaraan. Pertama: bahaya hari pembalasan amal. Ketika Allah berkata, ‘Mereka di surga dan aku tidak perduli, sedang yang lain di neraka dan aku tidak perduli.’ Dia tidak tahu berada pada kelompok yang mana. Kedua: ketika diciptakan dalam alam tiga kegelapan[1]. Ketika dipanggil oleh Malaikat sebagai orang yang sengsara atau bahagia, dia tidak tahu termasuk yang sengsara atau bahagia. Ketiga: saat disingkap catatan amal. Sedang dia tidak tahu apakah termasuk yang mendapat keridaan Allah atau kemurkaanNya. Keempat: hari ketika manusia dibangkitkan. Dia tidak tahu jalan mana dari jalan surga atau neraka yang akan dilalui.”

Sahl Ibn Abdullah berkata, “Ketakutan para Siddîkin (ulama yang beramal) akan su’ul khatimah pada tiap bahaya dosa dan gerik mereka. Merekalah yang di sifati Allah dalam firmanNya,

قال الله تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ ﴾ [المؤمنون: 60]

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut,…” (QS.al-Mu’minun:60)

‘Atha al-Khaffâf berkata, “Tidaklah aku berjumpa dengan ats-Tsauri melainkan ia sedang menangis. Aku tanya, ‘Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Aku takut tercatat sebagai orang yang celaka dalam catatan takdir.”

Wahai engkau yang berbuat dosa, itulah su’ul khatimah. Sudahkah engkau lihat bagaimana ‘ârifun (orang-orang yang tahu) memperhitungkannya… dimana posisimu dari mereka?! Apakah engkau melihat dirimu termasuk yang merasa malu dan takut atau yang merasa aman-aman saja?! Betapa meruginya engkau jika termasuk kelompok yang kedua. Bagaimana bisa seorang merasa aman meniti jalan yang mengantarnya kepada su’ul khatimah (pengakhiran yang buruk).

Wahai engkau yang berbuat dosa, waspadalah…berhati-hatilah!

Ibnul Mubarak berkata, “Sesungguhnya orang yang memiliki perseptif tidak akan merasa aman dari empat perkara: dosa masa lalu, yang tidak dia tahu apa yang Tuhan perbuat dengannya, umur yang tersisa, yang tidak dia tahu musibah apa saja yang akan dialami, kelebihan yang Allah beri, mungkin saja itu istidroj[2] dan kesesatan yang terdekorasi sehingga nampak seperti petunjuk. Penyimpangan hati saat demi saat lebih cepat dari kedipan mata, yang bisa jadi mencabut agamanya tapa disadari.

Wahai engkau yang berbuat dosa, engkau merasa akan selamat padahal menempuh jalan maksiat dan bergelimang perbuatan yang dimurkai?!

Waspada dicabut nyawa… tidak tersadar kecuali setelah engkau di hadapan malaikat yang kasar lagi bengis!

Al-Hasan al-Bashri menasehati, “Bergegaslah, bergegaslah! Sesungguhnya ia hanyalah nafas, bila ditahan terputuslah seluruh amal kalian yang dijadikan pendekat kepada Allah –azza wajalla-. Terahmati Allah orang yang melihat dirinya dan menangis atas sejumlah dosanya. Kemudian beliau membaca firman Allah,

قال الله تعالى: ﴿ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا ﴾[مريم: 84]

“Sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.” (QS.Maryam:84)

Jika mau –wahai engkau yang patut diiba-, aku sampaikan kepadamu beberapa kisah orang-orang saleh, yang menggabungkan antara ketaatan dan ketakutan su’ul khatimah… semoga itu dapat mengembalikan hatimu yang lari dari ketaatan dan menyadarkanmu sebelum hilang kesempatan…

Dari Ali -radiallahu ‘anhu-, dia berkata, “Aku mendatangi Umar Ibn al-Khatthâb yang sakit pasca ditikam Abu Lu’luah. Dia menangis. Aku Tanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin?’ Dia menjawab, ‘Berita langit membuatku menangis. Kemana aku akan dibawa, ke surga atau neraka?’ ‘Bergembiralah dengan surga! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -salallahu alaihi wasalam- bersabda yang tidak aku hitung berapa kali, “Dua orang sayid ahli surga adalah Abu Bakar dan Umar.’ Umar berkata, “Apakah engkau menjadi saksi wahai Ali bahwa aku di surga?! Aku katakan, ‘Ya. Dan engkau wahai Hasan[3], menjadi saksi kepada Rasulullah bahwa Umar termasuk ahli surga.”

Dari Muhamad Ibn Qois, bahwa seorang lelaki dari penduduk Madinah tengah sekarat, panik. Diapun ditanya, “Engkau panik?!” Dia menjawab, “Bagaimana tidak. Demi Allah, seandainya utusan gubernur Madinah mendatangiku, aku akan panik karenanya, lalu bagaimana lagi dengan (malaikat maut) utusan Tuhan semesta alam?!

Sebagian lagi menangis menjelang kematian mereka. Ketika ditanya akan hal itu dia menjawab, “Aku mendengar Allah mengatakan kepada suatu kaum:

قال الله تعالى: ﴿ وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ ﴾ [الزمر: 47]

“…dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. “ [4] Dan aku menunggu sebagaimana yang kalian lihat. Demi Allah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku!”

Sebagian lagi mengatakan, “Seandainya sahadat (persaksian memeluk Islam) berada di pintu rumah dan mati dalam Islam di pintu kamar, niscaya aku memilih mati dalam Islam, karena tidak tahu godaan apa yang terjadi pada hatiku sepanjang pintu kamar ke pintu rumah.”

Sofyan ats-Tsauri menangis dan berkata, “Aku takut imanku dicabut saat kematian.”

Dahulu Malik Ibn Dînar melakukan shalat sepanjang malam sambil menggenggam janggutnya, seraya berkata, “Wahai tuhanku, telah aku ketahui bagaimana penghuni surga dan penghuni neraka. Di manakah dari dua tempat itu tempat tinggal Malik?”

Wahai engkau yang berbuat dosa, sadarkan dirimu…! Jika sedemikian itu keadaan orang-orang saleh, dimana satu dari mereka ada al-Fâruk Umar Ibn al-Khathab -radiallahu ‘anhu-, sahabat Rasulullah, yang telah diberitakan masuk surga, yang setan menjauh dari bayangannya… apa bukan semestinya engkau –wahai pendosa- lebih dalam kepanikanmu dan lebih deras cucuran air matamu…?!

(syair):    Engkau bersangka baik dengan hari-hari yang dihisab

Tidak takut takdir buruk datang menjemput

Engkau selamat bermalam-malam hingga terhanyut

Di keheningan malam-malam kau cipta noda

Wahai pendosa, waspada hati mu tertelungkup!

Dari Anas -radiallahu ‘anhu-, dia berkata, bahwa Rasulullah banyak mengatakan,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك » فقلت: يا نبي الله آمنا بك، وبما جئت به، فهل تخاف علينا ؟!ّ  قال: «نعم ، إن القلوب بين أصبعين من أصابع الله يقلبها كيف يشاء»! [رواه الترمذي/ صحيح الترمذي للألباني: 2140]

“Wahai Tuhan yang membolak balik hati, tetapkan hatiku dalam agamaMu.”

Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, kami beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa. Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?!’

Nabi menjawab, “Ya. Sesungguhnya hati berada di antara dua jemari Allah. Dia membolak baliknya sekehendakNya.” [HR.at-Turmudzi. Lihat Shahih at-Turmudzi oleh al-Albani no.2140]

Wahai engkau yang berbuat dosa, berapa banyak hati yang Allah  kunci mati sehingga tidak merasakan apapun, hingga munkar baginya makruf dan makruf kemungkaran…! Dia dalam keadaan terperosok dan buta…! Dalam keadaan sedemikian itu maut mendatanginya… jadilah dia su’ul khatimah.

Wahai engkau yang berbuat dosa, dosa termasuk sebab su’ul khatimah!

Wahai engkau yang berbuat dosa, dosa adalah jalan menuju neraka sebagaimana ketaatan jalan menuju surga…

Abu Muhamad Abdulhaq berkata, “Ketahuilah, bahwa su’ul khatimah –semoga Allah melindungi kita daripadanya-, tidak terjadi pada mereka yang lahiriahnya istikamah dan batinya saleh. Tidak pernah terdengar yang seperti itu dan diketahui, Alhamdulillah. Namun terjadi pada siapa yang memiliki kerusakan akal dan berkubang dalam dosa besar. Sehingga setan menyambut dan memanfaatkan keadaannya pada kondisi itu. Semoga Allah melindungi, semoga Allah melindung. Atau pada mulanya istikamah kemudian berubah keadaannya dan keluar dari kebiasaan baik dan menjadi jalan hidupnya, sehingga hal itu menjadi sebab su’ul khatimah dan buruk pengakhirannya.

Dari Abdul Aziz Ibn Abi Ruwad, dia berkata, “Aku menghadiri seorang yang dalam keadaan sekarat. Aku katakan kepadanya, “Ucapkanlah la ilaha illallah!’ Dia pun mengatakannya. Di saat saat terakhir, aku katakan kepadanya, ‘Ucapkan la ilaha illallah!’ Dia berkata, ‘Berapa kali engkau katakan?! Sesungguhnya aku ingkar dengan apa yang engkau katakan.’ Dia pun mati dalam keadaan itu. Aku tanya istrinya perihal orang itu. Istrinya menjawab, ‘Dia adalah pecandu minuman keras.’ Abdul Aziz berkata, ‘Takutlah pada dosa, sesungguhnya ialah yang membinasakannya.’”

Wahai engkau yang berbuat dosa, hati-hati dari berketerusan dalam dosa!

Berketerusan merupakan pintu menuju perkara besar… sudah berapa banyak yang dihantarnya kepada kebinasaan… sudah berapa banyak pelaku dosa yang diperosokkannya?! Sesungguhnya mencandu dosa jalan menjadi kebiasaan, membuat jiwa susah meninggalkannya… jadi sengaja lalai dan panjang angan-angan… hingga mati mengejutkannya dalam keadaan tidak istikamah.

(syair):

Wahai pemabuk, apa merasa aman dengan kebodohan

Saat engkau lupa diri, kematian mengejutkanmu

Berkorban jadi pelajaran manusia

Sedang engkau berjumpa Tuhan sebagai seburuk makhluk melata

Ibnu Rajab berkata, “Ketahuilah, bahwa semasa manusia berharap hidup, dia tak akan memutus angan-angannya terhadap dunia. Dan terkadang tidak mengijinkan dirinya berpisah dengan kelezatan, syahwat kemaksiatan dan yang serupa. Setan menjanjikannya dengan taubat di akhir umurnya. Jika telah yakin tiba saat mati dan putus harapan hidup, baru tersadar dari mabuknya terhadap dunia. Saat itulah sesal atas kelalaian, penyesalan yang hampir membuat membunuh dirinya dan meminta kembali ke dunia untuk bertaubat dan beramal saleh. Sedikitpun itu tidak akan terkabul. Sakratul maut dan sesal kelalaian berkumpul pada dirinya. Padahal telah Allah peringatkan hamba-Nya dalam kitab-Nya akan hal itu agar bersiap sebelum datangnya kematian dengan taubat dan amal saleh. Allah berfirman,

قال الله تعالى: ﴿ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ * وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ * أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ * أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ * أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾ [الزمر: 54-58]

“(45) Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-mu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (55) Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. (56) Supaya jangan ada orang yang mengatakan, ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ).’ (57) Atau supaya jangan ada yang berkata, ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.'(58) atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’.”  (QS.az-Zumar:54-58)

Waspadalah -wahai engkau yang patut diiba- dikejutkan kematian sedang pintu taubat telah ditutup untukmu… janganlah sampai berjumpa Allah dengan memikul dosa-dosamu… betapa dahsyatnya hari itu bagimu !

Ibnu Rajab berkata mengenai firman Allah -ta’ala-:

قال الله تعالى: ﴿ وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ ﴾  [سبأ: 54]

“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini…”[5] ‘Sekelompok salaf menafsirkan, termasuk Umar Ibn Abdul Aziz -radiallahu ‘anhu-, bahwa : mereka minta bertaubat ketika telah dipisahkan antara mereka dan syahwatnya.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Takutlah engkau wahai anak Adam, jangan sampai tergabung padamu dua perkara: sakratulmaut dan penyesalan atas yang terlewat.”

Ibnu as-Sammâk berkata, “Waspadalah terhadap sakratulmaut dan penyesalan. Kematian mencengankanmu. Tidak dapat tergambarkan kadar yang dialami dan dilihat.”

Al-Fudhail Ibn Iyadh berkata, “Allah –azzawajalla- berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau terombang-ambing dalam nikmatKu dan juga memaksiatiKu, waspadalah! jangan sampai aku binasakan sedang di antara kemaksiatan.”

Wahai engkau yang berbuat dosa, benahilah keadaanmu… segera bertobat yang tulus… sesungguhnya siang dan malam terus menggulung umurmu tanpa engkau sadari. Orang berakal adalah yang bersiap menemui Tuhan-nya yang Maha Kuasa… dan berlindung dari su’ul khatimah

Ibnu Rajab berkata, “Sebagian Salaf berkata, ‘Hidup kalian menjadi harapan banyak orang. Yakni mereka yang sudah mati. Berharap bisa hidup walau sesaat agar dapat bertaubat dan berbuat taat. Namun tidak ada jalan bagi mereka untuk itu!”

Wahai yang terpedaya dosa, berikut pergulatan para pendosa!

Wahai engkau yang berbuat dosa, su’ul khatimah adalah perhentian yang jelek dan tempat tinggal terburuk…

Berikut adalah sisi dari kisah kaum yang berketerusan dalam dosa hingga ditohok maut dan mereka dalam kelalaian, jadilah berakhir dengan su’ul khatimah

Muhamad Ibn Uyainah al-Fazâri berkata, “Aku mendengar Abu Ishaq al-Fazâri berkata kepada Abdullah Ibn al-Mubârak, ‘Wahai Abu Abdurrahman, ada seorang dari sahabat kita yang mengumpulkan ilmu lebih banyak dari yang engkau dan aku kumpulkan. Saat sakratulmautnya aku hadir. Ketika dikatakan kepadanya, ‘Ucapakan lâ ilaha illallah!’ dia menjawab aku tidak bisa mengucapkannya. Kala dia bicara aku membantah. Dia katakan itu dua kali. Dia tetap seperti itu sampai meninggal. Aku tanyakan perihalnya.’ Dijawab, ‘Dia durhaka kepada kedua orang tuanya’. Sehingga aku menduga, dia tidak dapat mengucapkan kalimat ikhlas (la ilaha illallah) kerena kedurhakaannya kepada kedua orang tuanya.”

Bakr Ibn Abdullah al-Muzini berkata, “Seorang lelaki bani Israil mengumpulkan harta. Menjelang kematiannya, dia berkata kepada anak laki-lakinya, ‘Perlihatkan hartaku!’ Diperlihatkanlah sebagian besar kuda, onta, budak dan harta lainnya. Ketika melihat semua itu, dia menangis menyesal. Saat melihat malaikat maut, semakin menjadi tangisannya. Malaikat bertanya kepadanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Demi Tuhan yang telah mengasumsikanmu, aku tidak akan keluar dari rumahmu sampai memisahkan roh dari badanmu!’ Lelaki itu memohon, ‘Beri kesempatan hingga aku selesai membagikannya.’ Malaikat menjawab, ‘Mustahil! Sudah habis kesempatanmu, mengapa tidak engkau lakukan itu sebelum datang ajalmu?!’ Rohnya pun dicabut.

Ar-Rabi’ Ibn Birrah berkata, “Aku melihat lelaki di Syam yang dibimbing mengucap la ilaha illallah saat sakratulmaut hanya mengatakan, “Minum… tuangkan untuknya…!”

Hâsyim mengira dari Abu Hafs, dia berkata, “Aku mengunjungi seorang lelaki di al-Mashishah yang sedang sakratulmaut. Aku tuntun dia, ‘Ucapkanlah, la ilaha illallah!’ Dia berkata, ‘Mustahil, terhalangi antara aku dengannya.’”

Ibnu Rajab berkata, “Sebagian yang sakratulmaut saat ajal mendekati, menampar wajahnya dan berujar,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: [يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ]

“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah,” [6]

Sebagian lagi mengatakan, ‘Dunia telah melalaikan hingga habis hari-hariku.’ Sebagian lagi berkata, ‘Jangan sampai engkau dilenakan oleh kehidupan dunia sebagaimana ia melenakanku.’”

Orang-orang dahulu ada yang mabuk semalaman. Istrinya mencelanya karena meninggalkan shalat. (Tidak terima) dia bersumpah akan mentalak tiga istrinya, dengan tidak shalat selama tiga hari. Ngotot mencerai istrinya, diapun melakoni tidak shalat tiga hari, namun mati setelah itu. Dalam keadaan mencandu minuman keras dan meninggalkan shalat.

Diantara pecandu khamr ada yang dipanggil Abu Amr. Suatu malam dia tertidur dalam keadaan mabuk. Dalam tidurnya dia mendengar seseorang melantunkan (syair) :

Benar-benar engkau Abu Amr

Bersemedi di atas khamr

Minum minuman keras

Ada banjir menerpamu tanpa engkau tahu

Dia pun terbangun gelisah dan mengabarkan mimpinya kepada orang yang ada bersamanya, namun mabuk membuatnya tertidur kembali. Saat subuh di mati seketika!

Dikisahkan mengenai para makelar. Ketika sakratulmaut, dituntun mengucapkan la ilaha illallah. Namun dia menjawab, ‘Tiga setengah… empat setengah….’

Yang lain dituntun, ‘Ucapkan lâ ilaha illallah!” Malah berucap, ‘Rumah fulan, perbaiki demikian… kebun fulan, bikin demikian… !”

Wahai engkau yang berbuat dosa, hisab dirimu… tuluslah dalam menghisab dirimu… dan segera bertaubat sebelum hilang kesempatan… ingat mati… ingat bahwa maksiat dan dosa merupakan jalan menuju su’ul khatimah

Dengarkan wahai engkau yang patut dikasihani, demi memperbaiki batin dan lahiriahmu…! sesungguhnya kematian akan segera datang… siapa yang takut, akan bersungguh-sungguh dan menyelamatkan diri… larilah dari dosa kepada pengampun dosa… mulailah hidup baru; diawali dari tobat dan ditutup dengan amal saleh… semoga engkau termasuk orang-orang yang lolos…  selamat dari su’ul khatimah

Segala puji bagi Allah senantiasa dan selama-lamanya… shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi, keluarga dan para sahabatnya…

Azhari Ahmad Mahmud


[1] Tiga kegelapan dimaksud adalah alam kandungan. Dimana janin terbungkus dalam ari-ari yang berada dalam rahim dan di dalam perut -pent.

[2] Bentuk azab dengan penguluran atau pembiaran dalam kelalaian dan kemaksiatan sehingga terlena dan binasa dalam kesesatan –pent.

[3]  Putra Ali, cucu Rasulullah yang juga turut hadir –pent.

[4] (QS.az-Zumar:47)

[5] (QS.as-Saba’: 54)

[6] (QS.az-Zumar:56)

Artikel, Motivasi Islam

Salafus Shalih Dan Kesungguhan Beribadah

Sunset at Instanbul

Dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Utsman an-Nahdy, ia berkata: Aku melihat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu bergerak di atas tunggangannya dan ia menghadap arah terbit matahari. Aku mengira ia sedang tidur, lalu aku mendekatinya dan bertanya: ‘Apakah engkau sedang tidur wahai Abu Dzarr? Ia menjawab: ‘Tidak, akan tetapi tadi aku sedang shalat?[1]

Dikatakan kepada Ahnaf rahimahullah: ‘Sesungguhnya engkau sudah tua sedangkan puasa melemahkan kondisi fisikmu.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya saya sedang menyiapkannya untuk perjalanan panjang.’ Dikatakan: Shalat yang dilaksanakan Ahnaf rahimahullah umumnya adalah di malam hari dan ia meletakkan jarinya di lampu, kemudian ia berkata: ‘Hass’[2] dan ia berkata (kepada dirinya sendiri): ‘Wahai Ahnaf, apakah yang mendorong engkau melakukan ini di hari ini.’[3]

Dari Sa’id al-Jurairy, dari Abul ‘Ala`, dari seorang laki laki, ia berkata: ‘Aku mendatangi Tamim ad-Dary radhiyallahu ‘anhu lalu ia menceritakan kepada kami. Aku berkata: ‘Berapa juz engkau (dalam membaca al-Qur`an)? Ia berkata: ‘Barangkali engkau termasuk orang yang membaca al-Qur`an, kemudian di pagi harinya ia berkata: Aku telah membaca al-Qur`an di malam hari.’ Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh aku melaksanakan shalat sunnah tiga rekaat lebih kusukai dari pada membaca al-Qur`an di malam hari, kemudian di pagi harinya aku menceritakannya.’ Maka tatkala ia membuat aku marah, aku berkata: ‘Demi Allah, sesungguhnya engkau wahai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tersisa darimu lebih baik diam, maka kalian tidak perlu mengajar dan tidak perlu bersikap kasar kepada orang yang bertanya kepadamu.’

Maka tatkala ia melihatku marah ia bersikap lembut dan berkata: ‘Maukah engkau kuceritakan wahai anak saudaraku? Bagaimana pendapatmu jika aku seorang mukmin yang kuat dan engkau seorang mukmin yang lemah, maka kekuatanku menekan  kelemahanmu, maka engkau tidak mampu melawanku. Atau bagaimana pendapatmu jika engkau seorang mukmin yang kuat dan aku seorang mukmin yang lemah, ketika aku membawa kekuatanmu menekan kelemahanku, maka aku tidak mampu melawanmu. Akan tetapi ambillah dari dirimu untuk agamamu dan dari agamamu untuk dirimu, sehingga perkara menjadi lurus untukmu terhadap ibadah yang engkau mampu melakukannya.’[4]

Dan dari lanjutan komentar adz-Dzahaby rahimahullah terhadap hadits Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, dalam membaca al-Qur`an: … demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam puasa dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menguranginya hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا صَوْمَ أَخِي دَاوُدَ عليه السلام» [ أخرجه فالبخاري ومسلم]

Puasalah satu hari dan berbuka satu hari, puasa saudaraku Daud ‘alaihissalam.’[5]

Dan dalam hadits shahih juga, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ صِيَامُ دَاوُدَ عليه السلام» [ أخرجه البخاري ومسلم ]

Puasa paling utama adalah puasa nabi Daud ‘alaihissalam.”[6] Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa dahr (sepanjang tahun).[7] Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh tidur di sebagian malam dan bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَلكِنِّي أَقُوْمُ وَأَنَامُ وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَآكُلُ اللَّحْمَ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي » [ أخرجه البخاري ومسلم]

Akan tetapi aku shalat dan tidur, puasa dan berbuka,  menikahi wanita dan memakan daging, maka siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan dariku.”[8]

Dan setiap orang yang tidak mengencangkan jiwanya dalam ibadah dan wirid wiridnya dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya ia akan menyesal, menjalani hidup seperti pendeta, buruk wataknya, dan ia ketinggalan banyak kebaikan dalam mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat sayang terhadap orang orang beriman dan sangat mengharapkan manfaat untuk mereka. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjadi pengajar bagi umat amal amal yang paling utama dan menyuruh untuk meninggalkan tabattul (tidak menikah) dan bergaya hidup seperti pendeta yang beliau tidak diutus dengannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang terus menerus puasa, melarang menyambung puasa, melarang shalat kebanyakan malam kecuali sepuluh hari terakhir, melarang hidup membujang bagi yang mampu, melarang meninggalkan daging, dan berbagai perintah dan larangan lainnya. Maka seorang ‘abid (ahli ibadah) yang tidak banyak mengetahui hal itu dimaafkan dan diberi pahala, dan seorang ‘abid yang ‘alim (mengetahui) hadits hadits yang melewatinya (tidak mengamalkannya) adalah meninggalkan yang lebih utama dan terperdaya. Amal ibadah yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang paling rutin (terus menerus) sekalipun sedikit. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi ilham kepada kami dan kamu untuk mutaba’ah (mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan menjauhkan kita dari hawa nafsu dan menyalahi sunnah.[9]

Waki’ menceritakan dari A’masy, dari Sulaiman bin Maisarah dan Mughirah bin Syibl, dari Thariq bin Syihab, dari Salman (al-Farisi, sahabat utama radhiyallahu ‘anhu), ia berkata: ‘Apabila tiba malam hari, manusia darinya ada tiga tingkatan: Di antara mereka ada yang berguna untuknya dan tidak membahayakannya, ada yang membayakannya dan tidak berguna baginya, dan ada yang tidak berguna baginya dan tidak membahayakannya.’ Aku bertanya: ‘Bagaimana hal itu? Ia berkata: ‘Adapun orang yang berguna untuknya dan tidak membahayakannya maka ia adalah seorang laki laki mengambil keuntungan saat manusia terlalai dan dalam kegelapan malam, ia berwudhu dan shalat, maka itulah yang berguna untuknya dan tidak membahayakannya, dan laki laki yang mengambil keuntungan saat manusia terlalai dan di kegelapan malam, maka ia berjalan dalam maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka itulah yang membahayakannya dan tidak bermanfaat baginya, dan laki laki yang tidur hingga pagi hari maka itulah yang yang tidak bermanfaat baginya dan tidak membahayakannya.

Thariq berkata: Aku berkata: ‘Aku akan menemani orang ini (Salman radhiyallahu ‘anhu).’ Maka dikirim satu pasukan dari manusia (kaum muslimin), maka ia keluar bersama mereka. Lalu aku menemaninya dan aku tidak akan membiarkannya terhadap satu pekerjaan, jika aku mengaduk gandum ia memasak roti. Lalu kami singgah di satu tempat dan menginap padanya. Thariq mempunyai satu jam di malam hari yang dia melakukan shalat. Maka aku (Thariq) terjaga untuknya namum aku melihatnya tidur, aku berkata: Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dariku sedang tidur, lalu aku tidur. Kemudian aku bangun maka aku mendapatkannya masih tidur, aku kembali tidur, namun ketika ia bangun dari tidur, ia membaca sambil berbaring:

«سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ  »

Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar. Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah, sendirian-Nya, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.’

Sehingga apabila sudah menjelang waktu subuh, ia bangun, berwudhu, shalat empat rekaat. Tatkala kami selesai shalat fajar, aku berkata: ‘Wahai aku Abdillah, sesungguhnya saya mempunyai satu waktu di malam hari untuk shalat malam, dan aku terbangun untuknya namun aku mendapatkan engkau sedang tidur.’ Ia berkata: ‘Wahai anak saudaraku, apakah yang telah engkau dengar dariku? Aku mengabarkan kepadanya. Ia berkata: ‘Wahai anak saudaraku, itulah shalat, sesungguhnya shalat lima waktu menjadi penebus dosa dosa di antaranya selama ditinggalkan dosa dosa besar, wahai anak saudaraku, kamu harus sederhana (dalam ibadah), maka sesungguhnya ia lebih pas.’[10]

Dari Asab bin Wada’ah, dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, apabila ia mendatangi tempat tidur, berbolak balik di atas kasurnya tidak bisa tidur, ia berkata: Ya Allah, sesungguhnya api telah menghilangkan tidur dariku.’ Lalu ia bangun, lalu ia shalat hingga subuh.’[11]

Dan darinya, ia berkata: ‘Apabila Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu menuju tempat tidurnya seolah olah ia adalah biji di atas gorengan, maka ia berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya api neraka telah membuat saya terjaga (tidak bisa tidur)’, kemudian ia bangun menuju shalat.’[12]

Adz-Dzahaby meriwayatkan dengan sanadnya kepada al-Baghawy, ia berkata: ‘Ibnu Zanjawaih menceritakan kepada saya, ia berkata: aku mendengar Ibrahim bin Mahdy berkata: Aku mendengar Abul Ahwash berkata: ‘Anak perempuan tetangga Manshur bin Mu’tamir berkata: Wahai bapakku, di manakah kayu yang berdiri tegak di loteng Manshur? Ia menjawab: ‘Itu adalah Manshur yang berdiri melaksanakan shalat malam.’[13]

Nu’aim bin Hammad rahimahullah berkata: ‘Apabila Ibnu Mubarak rahimahullah membaca kitab riqaq, jadilah ia mengeluarkan suara seperti sapi yang disembelih karena tangis, tidak ada seorang pun dari kami yang berani bertanya kepadanya tentang sesuatu kecuali ia menolaknya.’[14]

Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan berkata: aku mendengar Ashim bin ‘Isham al-Baihaqy berkata: ‘Aku menginap suatu malam di sisi Ahmad bin Hanbal rahimahullah, lalu ia datang dengan membawa air dan meletakkannya. Maka tatkala di pagi hari ia melihat air masih utuh seperti semula, ia berkata: ‘Subhanallah, seorang laki laki menuntut ilmu tidak punya wirid (ibadah rutin) di malam hari.’[15]

Ishaq bin Ibrahim berkata: aku mendengar Fudhail berkata: ‘Apabila engkau tidak mampu shalat di malam hari dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau terhalang lagi terbelenggu yang dibelenggu oleh kesalahanmu.’[16]

Adz-Dzahaby berkata dalam biografi Ahmad bin Absil Hawary ash-Shufy memberikan komentar terhadap sebagian ucapannya: Aku berkata: ‘Jalan yang tertinggi adalah Muhammadiyah (yang dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yaitu mengambil yang halal dan mengambil keinginan yang dibolehkan tanpa berlebih-lebihan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿يَآأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا﴾ [المؤمنون: 51]

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. (QS. al-Mukminun:51)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَلكِنِّي أَقُوْمُ وَأَنَامُ وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَآكُلُ اللَّحْمَ  فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي » [ أخرجه البخاري ومسلم]

Akan tetapi aku shalat dan tidur, puasa dan berbuka,  dan menikahi wanita dan memakan daging, maka siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan dariku.”[17]

Maka tidak disyari’atkan berperilaku seperti pendeta, bercerai berai, menyambung puasa, bahkan tidak pula puasa setahun penuh. Agama Islam adalah mudah, cenderung kepada toleransi yang lurus, maka seorang muslim memakan dari yang halal yang diperolehnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ﴾ [الطلاق: 7]

 Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. (QS. ath-Thalaq:7)

Dan wanita adalah yang paling dicintai kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.[18] Demikian pula (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai) daging, halwa (manisan), madu, minuman manis/tawar lagi dingin dan minyak kesturi, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk paling utama.

Kemudian, seorang ‘abid (ahli ibadah) yang kosong dari ilmu apabila bersikap zuhud, tidak menikah, lapar, meninggalkan daging dan buah buahan. Dan mencukupkan diri terhadap gandum dan potongan roti niscaya kosong panca indranya dan halus, bisikan hati tidak berpisah darinya, ia mendengar bisikan yang bersumber dari rasa lapar dan tidak tidur. Demi Allah, panggilan/bisikan itu tidak pernah ada dalam realita, syetan masuk ke dalam batinnya dan keluar. Maka ia meyakini telah sampai, mendapat bisikan dan baik, maka syetan menguasainya, berbisik kepadanya, maka ia memandang orang orang beriman dengan pandangan merendahkan, mengingatkan terhadap dosa dosa mereka dan ia melihat kepada dirinya dengan pandangan sempurna. Terkadang perkara itu membawa kepada keyakinannya bahwa ia seorang wali, memiliki karamat dan kemampuan. Terkadang ia merasakan keraguan dan imannya tergoncang. Menyendiri dan lapar adalah langkah pertama jalan kependetaan dan itu tidak pernah ada dalam syari’at kita.

Bahkan, suluk (ibadah), tekun berdzikir, tidak berkumpul orang banyak, menangisi kesalahan, membaca al-Qur`an dengan tartil dan tadabbur, mencela hawa nafsu, banyak berpuasa yang disyari’atkan, selalu tahajjud, tawadhu (rendah hati) terhadap kaum muslimin, silaturrahim, toleransi, banyak tersenyum, berinfak padahal membutuhkan, mengatakan kebenaran yang pahit dengan lembut dan santun, menyuruh yang ma’ruf, memaafkan, berpaling dari orang orang jahil, berjaga di perbatasan, berjihad melawan musuh, melakukan ibadah haji, makan yang halal dan banyak beristighfar, maka ini semua adalah sifat sifat para wali dan pengikut nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan kita dalam mencintai mereka.[19]

oleh:
Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil
Bahauddin bin Fatih Aqil


[1] Siyar A’lam Nubala` 2/78.

[2] Ungkapan yang keluar dari mulut saat merasakan rasa sakit.

[3] Siyar A’lam Nubala` 4/91-92.

[4] Siyar A’lam Nubala’ 2/446.

[5] Sebagian dari hadits yang diriwayatkan al-Bukhari no.1976 dan Muslim dalam kitab Shaum no. 1159.

[6] Ibid.

[7] HR. Muslim 191, 186,187.

[8] HR. Al-Bukhari 5063 dan Muslim 1401.

[9] Siyar A’lam Nubala` 3/84-85.

[10] Siyar A’lam Nubala’ 1/549-550.

[11] Sifat Shafwah 1/709.

[12] Sifat Shafwah 1/709.

[13] Siyar A’lam Nubala` 5/403.

[14] Siyar A’lam Nubala` 8/394

[15] Siyar A’lam Nubala` 11/298.

[16] Shifat Shafwat 2/238

[17] HR. Al-Bukhari 5063 dan Muslim 1401.

[18] HR. Ahmad 2/128,199, 285, an-Nasa`i 7/61, al-Hakim 2/160, ia menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahaby dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: ‘Disukakan kepadaku dari dunia: wanita dan wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.’

[19] Siyar A’lam Nubala` 12/89-91.