Manhaj Archive

Artikel, Informasi, Kajian, Manhaj, Ustadz Arif Budiman

[Kajian MP3] GHURBAH (KETERASINGAN) – Bersama Ustadz Arif Budiman, Lc

al-quran

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah‎ (الحمد لله), segala puji bagi  Allah Subhanahu Wa Ta’ala  (الله  سبحانه و تعالى) yang senantiasa memberikan limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Para pembaca setia Situs Radioassunnah.com yang semoga selalu di berikan Taufik dan Hidayah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (الله  سبحانه و تعالى).

Pada kesempatan posting Kali ini tema pada posting kali ini mengulas masalah manhaj yaitu metode tatacara bergama islam yang benar berdasarkan al-qur’an Dan Sunnah. Namun (Penulis sangat menyarankan sekali untuk lebih utama mendengarkan kajianNya untuk menghidari apabila terjadi kesalahan.) Dan apa yang di pahami oleh generasi islam pertamakali yang sangat yaitu para Sahabat Radhiallahu anhu ajmain yang jelas mereka telah Allah puji dan telah Allah rekomendasikan dalam Al-quran dan Hadis – hadist.. Hadist di yang di bawakan adalah hadist yang di riwayatkan oleh sahabat Abdullah bin mas’ud Radhiyallahu Anhu, hadist ini yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam yang lainya.

Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  (رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم) bersabda :

 “Sesungguhnya islam awalnya datang dalam keadaan asing, dan nantinya pun (di akhir jaman) akan kembali asing, maka beruntunglah (akan mendapatkan surga) orang-orang yang asing (karena berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)” (HR. Muslim). 

Asing disini dimaksudkan aneh atau berbeda dan menyelisihi mayoritas yang ada. maka kata nabi muhammad saw beruntunglah bagi orang-orang yang asing ini.

Dalam riwayat lain : “… Mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan ketika manusia dalam keadaan rusak”. Berkata Syaikh Al Albani: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu ‘Amr Ad Daani dengan sanad yang shahih.” (Minhaajul Firqatin Naajiyah, hal. 7-8 – cet. Daarush Shami’i, Riyadh)

Seperti apakah kelanjutannya mengenai GHURBAH (KETERASINGAN) mari kita dengarkan dalam kajian format rekaman bersama Ustad Arif Budiman, Lc melalui playlist berikut :

 

Atau anda Bisa mengunduh kajiaNya dengan melalui Link yang kami sediakan sebagai berikut   Klik DiSINI”.

 

Artikel, Kajian Radio Kita FM, Manhaj, Tanya Jawab, Tanya Jawab

Bahaya Fanatisme

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Ustadz..
Penggunaan Istilah Salaf nampaknya sudah banyak dipakai di kalangan masyarakat kita. Pertanyaanya bagaimana jika ada 2 kelompok kajian yang sama-sama menisbatkan dirinya pada salafy tapi dianta keduanya itu ada perbedaan dan sebagai orang awam saya suka ikut kajian pada kajian pertama dan yang kedua tapi untuk orang-orang tertentu ada yang fanatik hanya pada kelompok kajian A saja enggan kepada kelompok kajian B.. begitupun sebaliknya ada yang hanya maunya ke kajian B tidak mau ke kelompok kajian A bagaimanakan sikap yang benar untuk menghadapi masalah seperti ini.. syukron.

Jawaban:
Memang betul fenomena seperti ini terjadi, bahwa ada sebagian ma’had atau sebagian pengajian yang menisbahkan diri mereka kepada salaf yang A demikian yang B juga demikian menisbahkan masing-masing kepada salaf atau ahlussunnah tapi koq terjadi perbedaan antara A dan B tersebut. Lalu bahkan sebagian kaum muslimin yang mengikuti kajiannya pun fanatik terhadap masing-masing kelompoknya saja. Bagaimana sikap kita sebagai orang yang mungkin baru mengaji atau seorang muslim yang ingin benar dalam masalah ini apa yang harus kita lakukan?

bahaya fanatisme

Yang pertama.. bahwa pengakuan seseorang tatkala dia menisbahkan diri kepada salaf ini harus terbuktikan dan dibuktikan dengan hakikat atau kebenaran yang ada. Tatkala seseorang misalkan mengaku bahwasanya saya salafy atau kajian disini bermanhaj salaf, itu dilihat apakah benar sesuai dengan manhaj salaf seperti itu ataukah bagaimana? tarolah misalkan kajian yang ada di A ataukah kajian yang ada di B ternyata sebetulnya kitab yang dikaji sama, kemudian ulama yang di ambil ilmu mereka juga ternyata sama tapi lalu kenapa terjadi fanatik terhadap satu dan yang lainnya? Atau yang A tidak mau mengaji ke yang B atau sebaliknya. Nah ini berarti yang masalah bukan manhaj salafnya, berarti yang masalah adalah personilnya itu, orang-orangnya. Karena perlu diketahui ada Islam dan ada Muslim, ada Salaf dan ada Salafi.

Islam berbeda dengan Muslim, Islam adalah satu ajaran, satu agama, satu manhaj, satu tata acara beragama yang sempurna, itulah Islam dan yang melakukannya atau pelakunya adalah Muslim dan Muslim inilah yang tidak terjaga dan tidak ma’shum dari kesalahan. Adapun Islam itu itulah yang terpelihara dari kesalahan dan tidak mungkin salah karena itu datangnya dari Allah dan Rosul-Nya. demikian pula sama tatkala salaf dan salafy salaf adalah ajaran yang dibawa oleh Rasulullah yang merupakan islam yang masih murni dan orisinal dan Salafinya adalah orangnya. Orang yang mengaku-ngaku mengikuti manhaj salaf tetapi terjadi perbedaan berarti yang bermasalah adalah orangnya ini yang tidak ma’shum dan tidak terpelihara dari kesalahan. Lalu bagaimana solusinya tatkala kita dihadapkan dengan fenomena dan peristiwa seperti ini yakni memang nyata dan terjadi?

Maka kita ikuti apa yang haq, kita ikuti apa yang benar, ikuti saja terlebih dahulu boleh mengikuti kajian A, kajian B bahkan Kajian C dan D dan seterusnya selama kajian yang dibawakan oleh masing-masing kajian tersebut adalah benar mengacu kepada Al Quran dan Assunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, bukan dengan ra’yu (akal) masing-masing mereka. Namun tatkala mungkin mereka ada di salah satu kajian A, entah B, C, D atau seterusnya tatkala ditanya misalkan menurut pengajian kami begini .. atau menurut Ustadz yang mengisi di pengajian kami begini.. gak boleh mengaji pada yang lain misalkan. Nah yang seperti ini sudah termasuk fanatisme dan kesalahan dalam bermanhaj salaf karena ajaran atau manhaj salaf itu sendiri tidak mengajarkan pelakunya untuk fanatisme atau ta’ashub kepada satu orang saja dan sudah dibahas bahwa boleh seseorang ketika mereka yang menisbahkan kepada Imam Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki tidak bermasalah selama tidak berta’ashub kepada masing-masing mereka, itu tidak bermasalah apalagi tatkala seseorang menisbahkan kepada Salaf maka ini harusnya tidak boleh lebih ta’ashub lagi.

Tidak boleh untuk ta’ashub atau fanatisme kepada orang-orang tertentu atau kajian-kajian tertentu yang sama sekali tidak terjamin akan keterpeliharaan mereka dari kesalahan. Sehingga sekali lagi sikap kita ikuti apa yang benar dari mana pun al haq itu bisa kita ambil. Darimana saja .. terutama apabila masing-masingnya mengkaji dari Al quran dan Sunnah dan pemahaman benar dari para ulama.

Tatkala misalkan ada perbedaan, berarti dari orangnya bukan dari manhajnya, bukan dari islamnya, dan bukan dari salaf itu sendiri. Jadi ikuti dan boleh mengkajinya tapi tidak boleh ta’ashub kepada satu pendapat saja akan tetapi kita harus hati-hati dan waspada karena di zaman ini pun banyak orang yang mengatasnamakan dakwah salafiyah tapi ada maksud dan tujuan tertentu dan membawa target tertentu sehingga kita harus panda-pandai dalam belajar dan memilih dan terakhir selalu diiringi dengan do’a kepada Allah agar Allah memberikan taufik kepada kita dan memberikan kelurusan kepada kita dalam belajar Islam ini sampai akhir hayat kita.Wallahu A’lam.

Pertanyaan di jawab oleh Ustadz Arif Budiman, Lc dalam kajian Manhaj (Meniti Jejak Rosul) Hari senin, pukul 05.30-06.30.

Adapun untuk rekaman audio tanya jawab ini Anda bisa simak di bawah ini:

Atau Anda bisa download langsung disini.

Artikel, Manhaj

Menapaki Jalan yang Lurus

Seiring berlalunya zaman dari masa kenabian, semakin mahal dan berharga nilai sebuah kebenaran. Sejak munculnya sekte sesat seperti Syi’ah dan Khowarij kemudian disusul dengan sekte-sekte yang lain hingga di zaman kita ini, maka perpecahan pun tidak bisa dihindari sehingga kaum muslimin (terutama yang awam) saat ini sangat kebingungan, manakah yang harus diikuti? Karena setiap kelompok mengaku dirinyalah yang paling benar, dan semuanya mengaku mengikuti Al-Quran dan Sunnah Nabi shollalllahu ‘alaihi wasallam. Tentang perpecahan ummat ini,14 abad silam  Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam menjelaskan :

“افْتَرَقَتِ اْليَهُوْدُ على إِحْدى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأمَّةُ على ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إلاَّ وَاحِدَة” قِيْلَ: مَنْ هِيَ يا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: “مَنْ كَانَ عَلىَ مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي (أخرجه أبو داود)

“Telah berpecah belah agama Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan, dan agama Nashrani menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan akan terpecah belah ummatku menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya berada di neraka kecuali satu. Para Sahabat bertanya : “siapakah mereka wahai Rosululloh?”, kemudian Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “mereka adalah seperti apa yang aku dan para Sahabatku pada hari ini” ( HR. Abu Dawud ).

Jalan Keluar

Setelah kita mengetahui keadaan ummat ini yang terpecah belah dalam berbagai kelompok, maka kita berharap  agar terhindar dari paham-paham yang sesat dan menyimpang dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :

Pertama : Berpegang teguh terhadap Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam

 

Sesungguhnya kesesatan akan bisa dihindari dengan menjadikan Al-Quran dan Sunnah Nabi sebagai pedoman hidup kita. Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam  bersabda :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابُ الله وَسُنَّةُ رَسُولِهِ

“Telah aku tinggalkan dua perkara yang jika kalian perpegang teguh kepadanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu : Kitabulloh (Al-Quran) dan Sunnah Rosul-Nya “ ( HR. Malik ).

Termasuk bagian berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah adalah mengembalikan semua perselisihan yang ada kepada Alloh dan Rosul-Nya. Alloh Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْئٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِالله وَاْليَوْمِ الآخِر

“Kemudian apabila kalian berselisih pendapat terhadap sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Quran) dan Rosul (sunnahnya)” (QS An-Nisa :59).

Al-Imam Asy-Syaukani rohimahulloh berkata : ”Maksud dari mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah dalam perkara agama, bukan perkara dunia. Kembali kepada Alloh adalah kembali kepada Al-Quran  dan kembali kepada Rosul-Nya adalah kembali pada sunnah yang suci setelah wafat beliau, adapun semasa hidup beliau adalah bertanya langsung kepada beliau shallallohu ‘alaihi wasallam” ( Fathul Qodir Juz 2 Hal. 768 ).

Kedua : Mengikuti cara beragama para Sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam

Sahabat Nabi adalah generasi terbaik ummat ini, mereka hidup mendampingi Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan, mereka  menyaksikan turunnya wahyu, sehingga patut bagi kita untuk mengikuti jejak mereka dalam hal Aqidah, ibadah, akhlak, manhaj, mu’amalah, dan lain sebagainya.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa menentang Rosul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan Kami masukkan dia kedalam neraka Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS An-Nisa : 115).

 

Para ulama menafsirkan kata “orang-orang Mukmin” pada ayat tersebut adalah para Sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, karena tidak ada orang mukmin pada saat ayat tersebut turun kecuali para Sahabat nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, dan juga tidak ada generasi yang mendapat jaminan keridhoan Alloh Ta’ala selain mereka, Alloh Ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه

“Dan orang-orang yang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho terhadap Alloh” (QS At-Taubah :100).

 

Para ulama berargumen dengan ayat tersebut bahwa mengikuti jalan mereka adalah wajib. Karena itu tidak boleh seorangpun menyelisihi apa yang sudah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi. Nabi menganjurkan kita untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka  serta menggigitnya dengan erat, siapa saja yang tidak mengikuti jalannya maka akan tersesat. Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam  bersabda :

عَلَيْكُمْ بِسُنّتِي وَسُنّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku. Gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian, dan berhati-hatilah kalian dalamn perkara yang baru (dalam hal agama) karena setiap hal yang baru dalam agama adalah sesat” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Ibnu Rojab Al-Hambali berkata: “Dalam hadits ini terdapat perintah, ketika terjadi perpecahan dan perselisihan untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan sunnah khulafa’urrosyidin sepeninggal beliau. Sunnah adalah jalan yang ditempuh , hal itu mencakup berpegang teguh dengan apa yang dianut oleh Nabi dan Sahabatnya berupa keyakinan, amalan  dan ucapan” (Jami’ul Ulum wal Hikam hal: 434)

Penutup

Di akhir tulisan ini, kami persembahkan sebuah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang begitu agung. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ (رواه مسلم)

“Sebaik-baik manusia adalah yang ada di zamanku (para sahabat), kemudian orang-orang yang setelahnya dan orang-orang yang setelahnya” (HR Muslim).

Maka, setelah kita mengatahui wajibnya berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah serta mengikuti cara pandang para Sahabat Nabi dalam memahami kedua hal tersebut sungguh tidak layak bagi siapapun untuk melangkahi atau mendahulukan hawa nafsunya dalam beraqidah, ibadah, akhlak, manhaj dan muamalah.  Jika mendapati sebuah keyakinan atau amalan yang dinilai sebagai ibadah, maka kita harus kembalikan kepada pemahaman Sahabat Nabi, apakah hal tersebut sesuai dengan pemahaman para mereka?

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala untuk selalu menapaki agama ini sesuai dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para Sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Wallohul Muwaffiq

 

Penulis: Budi Marta Saudin

Artikel: www.radioassunnah.com

Terbit di bulletin At-Ta’lim Cirebon edisi 027 tahun 2011