Kisah Islam Archive

Artikel, Kisah Islam

Mengenal Sosok Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah untaian kisah dari perjalanan seorang ulama besar dari kalangan ulama umat ini. Seorang imam dari kalangan para imam yang mendapat petunjuk. Beliau adalah seorang ulama dunia pada zamannya, orang tercerdas pada waktunya, belum ada yang menyamai dirinya dalam hal hafalan, ilmu serta amalan.

Beliau adalah Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Syihabudin Abdul Halim bin Majdudin Abul Barakat Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qosim al-Harani Ibnu Taimiyah yang merupakan julukan bagi kakeknya yang paling atas. Lahir para tangal 10 Rabiul Awal tahun 661 H. Adapun al-Harani adalah nisbat kepada sebuah negeri masyhur yang berada diantara negeri Syam dan Iraq.

Beliau berkulit putih, berperawakan tinggi sedang, berdada datar tegap, sedikit beruban, dengan rambut menjulur sampai diatas daun telinga, matanya besar bagaikan lisan ketika berbicara, suaranya emas, fasih, sangat cepat dalam membaca, padanya terdapat sifat keberanian serta memaafkan. Beliau hafal al-Qur’an pada usia sebelum baligh, terampil dalam ilmu syari’at dan bahasa arab serta mantiq dan lainnya. Dirinya tidak menikah dan tidak pula memiliki wanita simpanan, bukan karena tidak menyukai nikah, karena itu merupakan sunah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun, karena kesibukan beliau dengan ilmu, mengajar, dakwah serta berjihad. Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk meneliti, membaca, dan menelaah. Seakan dirinya tidak pernah kenyang dan puas akan ilmu, tidak merasa puas dari menelaah, tidak bosan serta capek dari menyibukan diri dengan penelitian ilmu.

Berkata Imam Dzahabi, “Tidaklah aku melihatnya kecuali sedang berada diantara tumpukan kitab”.

Beliau menyusun kitab untuk pertama kalinya pada usia tujuh belas tahun, dirinya termasuk seorang ulama yang berpredikat sepanjang masa disebabkan begitu banyak karya tulis yang beliau hasilkan, sehingga belum pernah didapati dalam sejarah Islam ada orang yang menulis karya ilmiah seperti yang beliau tulis, diperkirakan tulisan yang beliau hasilkan mencapai lima ratus jilid, dengan empat ribu buku tulis atau lebih.

Sampai dikatakan tulisan yang beliau hasilkan pada setiap harinya mencapai empat buku, didalam menulis buku-bukunya beliau selalu mengambil dari hafalan yang dia miliki, dirinya sangat mahir dalam masalah menulis dan cepat dalam menyusun, sehingga hasil tulisannya bila disamakan hampir sama dengan kilatan cahaya mesin. Hasil karya tulisanya sangat sempurna, dengan dibarengi hujjah dan dalil yang kuat, bagus dalam penulisan serta susunan pembahasannya.

Beliau mulai mengajar, sedang usianya pada saat itu masih dua puluh satu setelah kematian bapaknya. Adapun dalam mengajar tafsir maka beliau mulai mengajar pada usia tiga puluh tahun, dan terus berlanjut sampai waktu yang cukup lama, sungguh terkumpul pada dirinya imamah dalam masalah ilmu tafsir dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an. Dimana beliau sangatlah menekuni dan menyukainya secara total sampai dirinya betul-betul menguasai ilmu-ilmu tadi sehingga meninggalkan jauh yang lainnya. Dikisahkan, beliau mempunyai kitab tafsir yang sangat panjang yang berisikan sesuatu yang menakjubkan dan belum pernah ada sebelumnya yang menyamainya.

Beliau terkenal dengan hafalannya yang sangat kuat, setiap perkara yang pernah dihafalnya maka sangat jarang dirinya lupa. Adalah al-Hafidh al-Mizzi sangat mengagungkan gurunya ini dengan pujian yang banyak, sampai kiranya beliau mengatakan, “Tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengannya semenjak empat ratus tahun yang lalu”. Kehidupan yang dijalani sehari-harinya dipenuhi dengan kesungguhan, giat dan giat, yang tidak pernah diketahui menyibukan diri untuk bersenda gurau apalagi sampai melakukan akhlak tercela seperti menggunjing atau adu domba. Beliau sangatlah menjauhi dan bersih dari perilaku mengunjing dan mengadu domba ini, belum pernah ada penukilan yang menceritakan dirinya terjatuh dalam permasalahan buruk semacam itu. Majelisnya dipenuhi dengan hikmah dan kebaikan dan tidaklah mungkin berani orang yang senang menggunjing untuk melakukannya dimajelis beliau.

Beliau sangat zuhud terhadap dunia, akan tetapi tidak sampai berlebihan, dirinya biasa mendapatkan harta pada tiap tahunnya yang sangat banyak, kemudian beliau menginfakan seluruhnya yang mencapai sampai dua ribu dirham lebih, dan tangannya tidak menyentuh satu dirhampun, tidak mengambil walau hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau biasa mengunjungi orang sakit, mengiringi jenazah, menunaikan hak-hak orang lain, dan sangat baik terhadap orang lain, sehingga dirinya dicintai oleh semua kalangan, baik ulama, orang sholeh, tentara sampai penguasa, para saudagar dan pembesar, serta semua lapisan masyarakat. Disebabkan kontstribusi besar yang bermanfaat pada mereka baik siang maupun malam, dengan lisan maupun tulisannya.

Seringkali beliau diajukan dan ditawari untuk menjadi pejabat dan mempimpin namun dirinya enggan dan menolak, sembari mengatakan, “Carilah orang lain yang lebih cocok dari diriku”. Adapun dalam masalah menyebarkan ilmu, mengoreksi aqidah yang benar, dan mengembalikan manusia kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya, maka mereka lebih membutuhkannya dari pada jabatan serta tawaran tadi. Begitu pula seringkali beliau ditawari hadiah serta hibah akan tetapi beliau menolaknya, karena dirinya paham kalau sekiranya diambil tentu akan sulit bergerak dan melemahkan dalam menolak kebatilan serta akan suka menjilat. Dan ini merupakan metodenya Imam Ahmad bin Hanbal.

Dikisahkan dalam biografi beliau, dirinya dipenuhi materi dunia akan tetapi beliau menolaknya, sehingga beliau hanya mencukupkan sedikit. Dan dalam hal ini saudaranya Syarifudin yang mengurusi kebutuhannya. Berkata syaikh Abu Bakar Abu Zaid mengomentari hal ini, “Dan ini merupakan pelajaran bagi kita, bahwa tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang dua hal yang saling bertentangan, sebagaimana dikatakan:

Cinta terhadap kitab dan senang pada nyanyian

            Tidak mungkin terkumpul dalam hati seorang hamba

Maka kecintaan terhadap ilmu lalu menyibukan hati dan anggota badan demi harta, mengumpulkan serta memperbanyak maka tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang, sehingga setiap kali ada porsi serta usaha dan waktu yang engkau luangkan melebihi dari yang lainnya maka akan hilang yang satunya, cukuplah hal ini membuat kita menangis”.[1]

Adapun sikap beliau bersama penguasa, maka beliau sangat sering di dalam memberi nasehat, menyuruh perkara ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar, diantara yang tercatat dalam sejarah adalah sikapnya yang begitu besar dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah sebagaimana yang terjadi pada peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan. Demikian pula sikap beliau ketika berhadapan dengan Ghazan hingga dirinya dijuluki “Khalidiyah nisbat kepada Pedang Allah yang terhunus” karena keberaniannya bersama Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu.

Dikisahkan, pada tahun 699 H terjadi peristiwa genting, yakni datangnya Raja Ghazan ke negeri Damaskus. Maka segera Syaikhul Islam keluar mendatanginya lalu bertemu dengannya dan mengajak bicara bersamanya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mencukupi dirinya dari keburukan tangan Ghazan.  Yaitu tatkala dirinya meminta kepada penerjemah raja Ghazan, katakan padanya, “Engkau mengira dirimu seorang muslim, dan bersamamu qodhi, imam, dan syaikh,  sedangkan kalian menyakiti dan memerangi kami seperti sekarang ini. Adapun ayah dan kakekmu, keduanya adalah kafir, akan tetapi keduanya tidak melakukan seperti yang kamu lakukan sekarang ini, keduanya membuat perjanjian dan memenuhinya, adapun engkau, membuat perjanjian namun engkau langgar sendiri, dan saya katakan engkau tidak memenuhinya sama sekali”.

Beliau menyeret beberapa perkara bersama Ghazan dan Qathlusyah serta Bulari yang beliau lakukan semuanya karena Allah ta’ala, beliau mengatakan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikitpun kecuali kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Suatu ketika seluruh qodhi Damaskus serta tokoh-tokoh pembesar hadir pada majelisnya Ghazan, kemudian raja Ghazan menjamu mereka dengan berbagai makanan, lalu mereka semua menyantap jamuan tersebut kecuali Ibnu Taimiyah, beliau tidak ikut memakannya, maka ditanyakan padanya, “Kenapa engkau tidak ikut makan? Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku memakan makanan ini sedang kalian mengambilnya dengan merampas milik masyarakat, kemudian yang kalian masak adalah hasil dari rampokan harta mereka”. Kemudian Raja Ghazan meminta pada beliau supaya dido’akan kebaikan, maka beliau mengatakan dalam untaian do’anya, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau mengetahui kalau dirinya berperang hanya untuk menegakkan kalimat Allah Shubhanahu wa ta’alla agar tinggi dan berjihad di jalan -Mu, maka teguhkan serta tolonglah dirinya. Dan jikalau tujuannya hanya untuk kekuasaan, dunia dan memperbanyak harta, lakukan lah sekehendak -Mu…kemudian beliau pun mendo’akan dirinya dan raja Ghazan mengamini do’a tersebut. sedangkan para qodhi tadi yang datang bersamanya merasa takut bila sampai membunuhnya, maka mereka langsung merapikan pakaian, takut kalau kiranya raja Ghazan murka lalu membunuhnya sehingga darahnya Ibnu Taimiyah menimpa mereka.

Maka tatkala mereka keluar dari hadapan sang Raja, berkata pimpinan para pembesar Qodhi yang bernama Ibnul Shashari kepada Ibnu Taimiyah, “Hampir saja engkau membunuh kami semua bersamamu, maka mulai sekarang kami tidak ingin menemanimu kembali”. Maka dijawab oleh beliau, “Demikian juga mulai dari sekarang aku pun tidak ingin menemani kalian”.

Beliau di jebloskan ke dalam penjara Qol’ah di Damaskus pada akhir hayatnya, maka beliau tinggal didalamnya sambil menulis, dan mengirim surat kepada para sahabatnya, sambil mengatakan bahwa dirinya mendapat karunia ilmu yang Allah Shubhanahu wa ta’alla bukakan untuknya dari berbagai macam ilmu yang sangat besar faidahnya.

Beliau mengatakan, “Sungguh Allah Shubhanahu wa ta’alla telah membuka untukku dalam penjara ini, beberapa kali dari makna-makna al-Qur’an dan pokok-pokok ilmu lainnya yang sangat banyak, dimana banyak dari kalangan para ulama mengharap untuk bisa memahaminya. Dan aku sangat menyesal karena telah banyak menyia-yiakan waktuku yang aku habiskan bukan untuk mempelajari makna al-Qur’an”. Selanjutnya beliau dilarang untuk menulis, sehingga tidak ada satu pun disisinya alat untuk menulis, seperti kertas dan pena. Kemudian setelah itu beliau menyibukkan diri untuk membaca, bermunajat dan dzikir kepada Allah azza wa jalla.

Imam Ibnu Qoyim, muridnya menceritakan, “Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mensucikan ruhnya dan menyinari kuburnya-, berkata, “Sesungguhnya didunia ada surga, barangsiapa yang diharamkan untuk memasukinya maka tidak akan mungkin masuk ke dalam surga yang di akhirat”. Suatu ketika beliau juga pernah bertanya padaku, “Apa yang diperbuat oleh musuh-musuhku terhadap diriku? Diriku adalah surgaku dan tamanku berada didalam dadaku, dimanapun diriku pergi dia akan selalu bersamaku dan tidak akan berpisah denganku. Adapun bagiku penjara adalah tempat untuk menyendiri bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla, ketika aku dibunuh maka mati syahid bagiku, ketika mereka mengusir dari negeriku maka itu seperti bertamasya”.

Dan ketika di dalam penjara beliau berkata, “Kalau seandainya diganti sepenuh penjara ini dengan emas niscaya tidak ada bandingannya bagiku untuk mensyukuri nikmat di penjara ini”. atau ucapan beliau, “Niscaya aku tidak mampu membalas mereka, karena dengan sebab mereka aku memperoleh kebaikan yang sangat banyak…atau ucapan beliau yang senada dengan ini. Ketika beliau sujud di dalam sholatnya beliau biasa berdo’a, “Ya Allah, tolonglah diriku untuk berdzikir kepada -Mu, untuk bersyukur kepada -Mu dan untuk beribadah dengan baik kepada -Mu”.

Suatu ketika beliau pernah menuturkan, “Orang yang terpenjara ialah yang terpenjara hatinya dari mengenal Rabbnya, dan orang yang tertawan ialah yang tertawan oleh hawa nafsunya”. Manakala beliau masuk ke dalam penjara Qol’ah dan berada didalamnya, beliau melihat sekelilingnya sembari membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ ١٣﴾ [ الحديد: 13 ]

“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa”. (QS al-Hadiid: 13).

Beliau adalah orang yang banyak beribadah, senantiasa membasahi lisannya untuk berdzikir, sampai tidak ada yang mampu menggantikan kebiasaan ini dari kesibukan apapun tidak pula ada yang memalingkannya.

Imam Ibnu Qoyim mengkisahkan, “Aku pernah datang untuk melakukan sholat shubuh bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, setelah selesai beliau duduk berdzikir kepada Allah ta’ala hingga mendekati pertengahan siang, setelah itu beliau berpaling kepadaku sambil berkata, “Inilah makananku kalaulah sekiranya aku tidak memberi makanan ini pada tubuhku maka aku akan jatuh lemas, atau ucapan yang mirip dengan ini. Beliau juga pernah berkata padaku, “Aku tidak pernah meninggalkan untuk berdzikir kecuali hanya sekedar menghilangkan kepenatan dan istirahat sejenak untuk bersiap-siap melakukan dzikir yang lainnya. Atau ucapan yang semakna dengan ini.

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui, belum pernah aku melihat seorangpun yang lebih baik kehidupannya dari beliau sebelumnya, walaupun dirinya dipenjara dan diancam serta ditekan namun bersamaan dengan itu beliau adalah orang yang paling baik penghidupannya, paling lapang dadanya, paling teguh hatinya, dan paling berbahagia jiwanya, terpancar pada pandangan matanya kenikmatan yang tiada tara. Dan kami, biasanya tatkala sedang merasa gundah dan berprasangka buruk serta terasa sempit dunia tempat berpijak ini, maka kami mendatangi beliau. Dan tidaklah ketika kami melihatnya serta mendengar nasehatnya melainkan segera hilang kegundahan dan segala permasalahan tersebut, lalu berubah menjadi ketenangan, merasa kuat, yakin dan tentram. Maha suci Allah Shubhanahu wa ta’alla, bagi orang dari kalangan para hambaNya yang menyaksikan surga -Nya sebelum berjumpa dengan -Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla telah membukakan untuk meraka pintu-pintu surga di dunia ini, negeri untuk beramal, lalu datang kepada mereka bau harumnya, anginnya serta keindahannya, sehingga mendorong kekuatannya untuk menggapai surga dan berlomba-lomba untuk merengkuhnya”.

Beliau pernah berkata, “Aku halalkan kehormatanku bagi tiap orang yang pernah menyakitiku, akan tetapi barangsiapa yang menyakiti Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya, demi Allah pasti aku akan membalasnya”. Berkata Qodhi Ibnu Makhluf, dia adalah salah seorang musuhnya, “Kami belum pernah melihat orang yang paling bertakwa melebihi Ibnu Taimiyah, tidak ada kesempatan bagi kami untuk memusuhinya pasti kami lakukan, akan tetapi, tatkala beliau mampu membalasnya beliau memaafkan kami”.

Adapun meninggalnya beliau dikarenakan ketika masih berada didalam penjara Qol’ah pada dini hari malam senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 H. sebelumnya beliau sakit demam selama tujuh belas hari. Beliau meninggal tepat pada waktu sepertiga malam terakhir. Setelah tersebar berita kematiannya maka berkumpul di penjara Qol’ah manusia yang sangat banyak dari kalangan teman dan murid-murid beliau, sambil menangisi serta memujinya. Dan saudaranya Zainudin Abdurahman mengabarkan pada mereka bahwa dirinya bersama beliau semenjak dijebloskan ke dalam penjara, mereka berdua telah menghatamkan al-Qur’an sebanyak delapan puluh kali.

Dan hampir menyelesaikan yang ke delapan puluh satunya akan tetapi ketika sampai pada firman Allah ta’ala beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir:

قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَنَهَرٖ ٥٤ فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۢ ٥٥﴾ [ القمر: 54-55 ]

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa”. (QS al-Qomar: 54-55).

Sungguh terkumpul pada saat itu manusia yang mengikuti sholat jenazah beliau lautan masa yang begitu banyak sampai diperkirakan dari kalangan laki-lakinya enam puluh ribu orang atau lebih sampai dua ratus ribu orang. Dari kalangan wanita lima belas ribu orang, dan ini mengingatkan kita pada ucapannya Imam Ahmad yang mengatakan kepada ahli bid’ah, “Perjanjian kami bersama kalian adalah  ketika sholat jenazah”.

Dikisahkan banyak mimpi orang sholeh yang mengabarkan kebaikan untuknya. Kemudian dilaksanakan pula pada sebagian besar negeri kaum muslimin sholat ghoib, baik negeri yang berdekatan maupun yang jauh sampai di negeri Yaman dan China. Dikabarkan bahwa orang-orang yang sedang safar mendengar panggilan diperbatasan China untuk melaksanakan sholat ghoib untuk beliau pada hari jum’at, dikatakan dalam panggilan tersebut, “Sholat untuk penerjemah al-Qur’an”.[2] Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla merahmati Syaikhul Islam, dan memberinya balasan atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan. Dan semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengumpulkan kami dan beliau di negeri yang penuh kenikmatan bersama para Nabi, shidiqin, para syuhada dan orang-orang sholeh, dan mereka adalah sebaik-baik teman.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya. Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

Oleh : Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

[1] . al-Jami’ li Siroti Syakihil Islam Ibnu Taimiyah hal: 26-27.

[2] . al-Jami’ li Siroti Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah karya Syaikh Muhammad Aziz Syams dan Syaikh Ali al-Imrani dengan pengawasan dari Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid.

Artikel, Kisah Islam

Pelajaran dari Hijrahnya Nabi

1435468_48926482Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

“Ketika kami sedang duduk-duduk di kediaman Abu Bakar pada siang hari nan terik, tiba-tiba ada seseorang berkata padanya, “Ini Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan menutup wajahnya dengan kain di waktu yang tidak biasa beliau mendatangi kita”.

Abu bakar berkata: “Ayah dan ibuku sebagai tebusan untuknya, demi Allah! Beliau tidak datang di waktu-waktu seperti ini kecuali karena ada hal penting”.

Aisyah melanjutkan, “Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang dan meminta izin masuk, lantas di izinkan dan beliau pun masuk. Kemudian Rasulullah berkata kepada Abu Bakar, “Keluarkan orang-orang yang berada di sisimu!”.

Abu Bakar menjawab: “Mereka tidak lain adalah keluargamu, wahai Rasulullah!”. Beliau berkata lagi, “Sesungguhnya aku telah di izinkan untuk pergi (hijrah)”. Abu Bakar menjawab, “Engkau meminta aku menemaniku, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Ya”.

Abu Bakar berkata, “Gunakanlah salah satu dari dua ekor ontaku ini, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah, “. Lalu Rasulullah berkata padanya, “Aku bayar sesuai harga”.

Aisyah melanjutkan kembali, “Lantas kami persiapkan perbekalan untuk keduanya, kami sertakan bekal makan untuk keduanya disebuah wadah. Kemudian Asma’ binti Abu Bakar menyobek ikat pinggangnya menjadi dua bagian, satu bagian dia ikatkan ke bekal makanan dan yang satu lagi untuk di pakainya. Ketika itulah dia kemudian di juluki dengan Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang)”.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berjanji untuk bertemu Abu Bakar di sebuah gua di gunung Tsur. Lalu keduanya tinggal didalam gua tersebut selama tiga malam, sementara pada malam-malam itu Abdullah putra Abu Bakar mendampingi mereka berdua pada malam hari.

Aisyah menuturkan, “Dia (Abdullah) adalah seorang anak yang sudah menginjak usia baligh, cerdas dan cepat paham. Dia berjalan meninggalkan keduanya menjelang waktu subuh sehingga pagi harinya bisa berada di Makkah bersama orang-orang Quraisy seakan malam harinya dia menginap di Makkah. Semua perintah yang diinstruksikan keduanya kepadanya dapat di cernanya dengan baik. Lantas dia membawa berita tentang hal itu kepada mereka berdua ketika hari mulai gelap.

Sementara Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakar menggembalakan kambing perah untuk keduanya, dan mengistirahatkannya untuk sesaat di malam hari sehingga keduanya dapat meminum dari perahan susu kambing tersebut, kemudian ketika tiba waktu subuh Amir bin Fuhairah menyeru kambing-kambing gembalanya (untuk pergi). Dia lakukan hal itu selama tiga malam tersebut”.

Sebelumnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar telah menyewa seseorang dari Bani Dail yang masih satu keturunan dengan Bani Abdi bin Adiy, yang merupakan penunjuk jalan berpengalaman di dalam menelusuri jalan. Membuat perjanjian dibelakang ruamhnya keluarga besar Ash bin Wail as-Sahmi. Dia ketika itu masih menganut agama kaum kafir Quraisy namun keduanya menaruh kepercayaan kepadanya dan menyerahkan kedua onta mereka kepadanya. Setelah itu, mereka berdua membuat perjanjian dengannya untuk bertemu di gua Tsur setelah tiga malam dengan membawa kedua onta tersebut.

Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar berangkat, ikut serta juga bersama mereka Amir bin Fuhairah. Mereka semua dibimbing oleh Abdullah bin Uraiqith dengan menempuh jalur pesisir pantai”.

Imam Ibnu Syihab menuturkan: “Telah mengabarkan padaku Abdurahman bin Malik al-Mudlij, beliau adalah saudara Suraqah bin Malik bin Ju’syum, bahwa ayahnya mengabarkan padanya, pernah mendengar Suraqah bin Ju’syum bercerita: “Telah datang utusan kafir Quraisy pada kami, dengan membawa berita sayembara, dengan hadiah besar senilai 100 ekor onta sebagai imbalan bagi siapa saja yang dapat membawa Rasulullah atau Abu Bakar, apapun kondisinya hidup maupun mati.

Suraqah bertutur, “Tatkala aku sedang duduk-duduk di majlis kaumku, Bani Mudlij, datanglah seorang laki-laki dari mereka hingga berdiri di hadapan kami yang sedang duduk-duduk seraya berkata, “Wahai Suraqah, baru saja aku melihat para musuh di pesisir pantai. Aku kira mereka itu Muhammad dan para sahabatnya”. Lalu tahulah aku bahwa mereka memang orangnya.

Lantas aku berkata kepadanya, “Sesungguhnya yang kami lihat bukan mereka akan tetapi kamu melihat si fulan dan si fulan yang berangkat di depan mata kita”. Kemudian aku berdiam dimajelis sesaat, lalu berdiri dan masuk lagi. Lantas aku menyuruh budak wanitaku agar mengeluarkan kudaku yang berada dibelakang bukit, lalu dia menahannya untukku.

Selanjutnya aku mengambil tombakku lantas keluar melalui bagian belakang rumah, aku membuat garis di tanah dengan kepala tombakku, dan menurunkan bagian atasnya hingga aku menghampiri kudaku lantas menungganginya. Aku mengendalikannya agar membawaku lebih dekat hingga aku mendekat dari mereka namun kudaku terjungkal sehingga aku terjatuh darinya, lalu aku berdiri, sementara tanganku meraih busur lalu aku mengeluarkan anak-anak panah lantas mengundinya, apakah aku harus mencelakai mereka atau tidak?

Namun undian yang keluar justru yang tidak aku sukai, lantas aku menunggangi kudaku dan tidak mempedulikan perihal hasil undian yang keluar tadi, kudaku membawaku mendekat hingga bilamana aku mendengar bacaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau dalam kondisi tidak menoleh, sedang Abu Bakar banyak menoleh.

Tiba-tiba terperosoklah kedua lengan kudaku ke dalam tanah sampai sebatas lutut hingga membuatku terjatuh darinya, kemudian aku menderanya, lalu iapun bangkit lagi, namun kedua lengannya itu hampir tidak dapat dikeluarkan. Tatkala ia sudah berdiri tegak, tiba-tiba bekas kedua lengannya tadi menimbulkan debu yang mengepul di atas seperti asap, lantas aku mengundi dengan anak-anak panah lagi, namun lagi-lagi yang keluar adalah justru yang aku benci, lantas aku berteriak memanggil mereka bahwa mereka aman.

Mereka pun menghentikan langkah, lalu aku menunggangi kudaku hingga menemui mereka. Ketika aku bertemu dan mengingat apa yang baru saja aku alami saat bertahan dari menjamah mereka, terbesitlah dalam diriku bahwa apa yang dibawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ini akan mendapatkan kemenangan.

Lalu aku berkata padanya, “Sesungguhnya kaummu telah menyediakan hadiah 100 ekor onta bagi yang dapat menangkapmu”. Aku juga memberitahukan kepada mereka perihal apa yang akan dilakukan orang-orang terhadap mereka. Lantas aku menawarkan mereka perbekalan dan barang, namun beliau tidak melakukan tawaran terhadapku dan tidak meminta apapun kecuali hanya berkata, “Rahasiakanlah keberadan kami”. Lalu aku memintanya agar menuliskan jaminan perlindungan untukku, maka beliau memerintahkan Amir bin Fuhairah untuk menuliskannya, lalu dia menulisnya untukku pada sepotong kulit, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi berlalu menuju Madinah” (HR Bukhari no: 3905, 3906).

Pelajaran dari kisah hijrah:

Pertama: Bahwa pilihan waktu dan tempat untuk hijrah adalah wahyu dari Allah ta’ala kepada NabiNya. Hal itu, berdasarkan hadits diatas yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Nabi Muhammmad Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Abu Bakar, “Sesungguh nya aku telah di izinkan untuk keluar (hijrah)”. Abu Bakar menjawab, “Engkau meminta aku menemaniku, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Ya” (HR. Bukhari no: 3905).

Dalam hadits lain yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ » [أخرجه البخاري

Aku melihat dalam mimpi kalau diriku berhijrah dari Makah menuju sebuah negeri yang banyak pohon kurmanya. Maka aku pergi dan saya kira negeri itu ialah Yamamah, namun ternyata dia adalah Madinah“. HR Bukhari no: 3622.

Kedua: Menyusun serta mengatur secara detail rencana hijrah sehingga bisa sukses walaupun dihadapkan pada rintangan dan tantangan yang siap menghadang.

Ketiga: Penjagaan Allah ta’ala terhadap Nabi -Nya, semenjak dari diutusnya menjadi Nabi sampai akhirnya tiba di kota Madinah. Hal tersebut sesuai dengan janji yang Allah Shubhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman -Nya:

[وَٱللَّهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِۗ ٦٧﴾ [ المائدة: 67 )
“Dan Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia”. (QS al-Maaidah: 67).

Dan Allah azza wa jalla mengkisahkan ucapan Nabi-Nya kepada sahabatnya ketika cemas dengan keberadaannya, Allah Shubhanahu wa ta’ala mengatakan:

[إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ إِذۡ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ ٤٠ ﴾ [ التوبة: 40 )
“Di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita”.  (QS at-Taubah: 40).

Dalam sebuah hadits yang di keluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan peristiwa hijrah yang dia alami bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata:

قال أبو بكر: « كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْغَارِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِأَقْدَامِ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ لَوْ أَنَّ بَعْضَهُمْ طَأْطَأَ بَصَرَهُ رَآنَا قَالَ اسْكُتْ يَا أَبَا بَكْرٍ اثْنَانِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا » [أخرجه البخاري و مسلم

“Aku berada di sisi Nabi Muhammmad Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam gua (thur), lalu saat aku menengadahkan kepalaku, aku dapati kaki-kaki mereka tepat diatas(ku). Lantas aku berkata, “Wahai Rasulallah, Andaikan salah seorang dari mereka menoleh ke bawah pasti dia dapat melihat kita”. Beliau berkata: “Diamlah, wahai Abu Bakar! Kita (memang) berdua tapi Allah lah pihak ketiganya”. HR Bukhari no: 3922. Muslim no: 2381.

Keempat: Tatkala Nabi Muhammmad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mema’afkan Suraqah bin Malik, seketika itu Suraqah menawarkan bantuan kepada beliau seraya berkata, “Ambilah anak panahku dan sarungnya, dan engkau nanti akan melewati onta dan kambingku di tempat ini dan itu, ambillah sesuai kebutuhanmu”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak membutuhkannya”.

Maka manakala seorang da’i merasa cukup tidak meminta-minta harta yang ada ditangan orang lain, dirinya akan di cintai oleh mereka. Namun, sebaliknya jika dirinya merasa tamak dengan harta orang lain maka mereka akan lari darinya. Dan ini merupakan pelajaran mendalam yang sangat berharga bagi para da’i yang mengajak orang ke jalan Allah azza wa jalla.

Kelima: Bahwa peran serta Abu Bakar yang beliau lakukan tatkala hijrah terhitung sebagai keutamaan besar bagi beliau. Dan cukup sebagai bentuk pemuliaan bagi dirinya manakala disebutkan dalam ayat al-Qur’an yang dibaca sampai hari kiamat kelak, Allah ta’ala berfirman:

[ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ إِذۡ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ ٤٠﴾ [التوبة: 40 )
“Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita”.  (QS at-Taubah: 40).

Keenam: Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, “Didalam menyewanya Nabi Muhammmad Shalallahu ‘alaihi wa sallam Abdullah bin Uraiqith ad-Du’ali sebagai penunjuk jalan tatkala hijrah –sedang dirinya adalah seorang kafir- sebagai dalil atas bolehnya untuk merujuk kepada orang-orang kafir dalam masalah kedokteran, obat-obatan, penulisan dan penghitungan bulan serta yang semisal itu, selagi di situ tidak ada kekuasaan dan mempunyai kejujuran. Dan tidak diharuskan dari kekafirannya tersebut bisa dipercaya, karena tidak perkara yang lebih berbahaya dari pada penunjuk jalan terlebih dalam hijrah semacam ini”.

Ketujuh: Bahwa hukum hijrah tidak dihapus, bahkan hukum tersebut terus berlangsung sampai hari kiamat. Hal tersebut berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Junadah bin Abi Umayyah, beliau berkata:

قال جنادة بن أبي أمية: « حَدَّثَهُ أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْهِجْرَةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَاخْتَلَفُوا فِي ذَلِكَ قَالَ فَانْطَلَقْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُنَاسًا يَقُولُونَ إِنَّ الْهِجْرَةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْهِجْرَةَ لَا تَنْقَطِعُ مَا كَانَ الْجِهَادُ » [أخرجه أحمد

“Bahwa ada  beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sebagian mereka berkata, “Sesungguhnya hijrah telah terputus”. Dan mereka berselisih akan hal tersebut.

Dia melanjutkan, “Lalu aku bergegas menuju kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ada sebagian orang yang mengatakan bahwa (hukum) hijrah telah terputus”. Beliau menjawab: “Sesungguhnya hijrah tidaklah terputus selagi masih ada jihad” (HR Ahmad 27/142 no: 16597).

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

Penulis : Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah

Al-Bayan Edisi 007, Artikel, Doa, Kisah Islam, Majalah Al-Bayan

Kisah Seorang Putri Shalihah yang Menakjubkan

Kisah seorang wanita yang bernama ‘Abiir yang sedang dilanda penyakit kanker. Ia mengirimkan sebuah surat berisi kisahnya ke acara keluarga mingguan “Buyuut Muthma’innah” (rumah idaman) di Radio Qur’an Arab Saudi, lalu menuturkan kisahnya yang mem-buat para pendengar tidak kuasa menahan air mata mereka. Kisah yang sangat menyedihkan ini dibacakan di salah satu hari dari sepuluh terakhir di bulan Ramadhan lalu (tahun 2011). Berikut ini kisahnya sebagaimana dituturkan kembali oleh sang pembawa acara DR. Adil Alu Abdul Jabbaar :

Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita dan mengagumkan, bahkan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kecantikannya merupakan tanda kebesaran Allah.

Setiap lelaki yang disekitarnya berangan-angan untuk memperistrikannya atau menjadikannya sebagai menantu putra-putranya. Hal ini jelas dari pembicaraan ‘Abiir tatkala bercerita tentang dirinya dalam acara Radio Qur’an Saudi “Buyuut Muthma’innah”. Ia bertutur tentang dirinya: “Umurku sekarang 28 tahun, seorang wanita yang cantik dan kaya raya, ibu seorang putri yang berumur 9 tahun yang bernama Mayaa’. Kalian telah berbincang-bincang tentang penyakit kanker, maka izinkanlah aku untuk menceritakan kepada kalian tentang kisahku yang menyedihkan dan bagaimana kondisiku dalam menghadapi pedihnya kankerku dan sakitnya yang berkepanjangan dan perjuangan keras dalam menghadapinya.

Bahkan sampai-sampai aku menangis akibat keluhan rasa sakit dan kepayahan yang aku rasakan. Aku tidak akan lupa saat-saat dimana aku harus menggunakan obat-obat kimia, terutama tatkala pertama kali aku mengkonsumsinya karena khawatir dengan efek/dampak buruk yang timbul, akan tetapi aku sabar menghadapinya meskipun hatiku teriris-iris karena gelisah dan rasa takut.

Setelah beberapa lama mengkonsumsi obat-obatan kimia tersebut mulailah rambutku berguguran. Rambut yang sangat indah yang dikenal oleh orang yang dekat maupun yang jauh dariku.

Sungguh… rambutku yang indah tersebut merupakan mahkota yang selalu aku kenakan di atas kepalaku. Akan tetapi penyakit kankerlah yang mengugurkan mahkota helai demi helai berguguran d depan kedua mataku.
Pada suatu malam datanglah Mayaa’ putriku lalu duduk di sampingku. Ia membawa sedikit manisan (kue). Kami mulai menyaksikan sebuah acara di salah satu stasiun televisi, lalu ia pun memandang kepadaku dan berkata, “Mama…engkau dalam keadaan baik?”
Aku menjawab, “Ya”.
Lalu putriku memegang uraian rambutku…ternayata uraian rambut itupun berguguran di tangan putriku. Iapun mengelus-ngelus rambutku ternyata berguguran beberapa helai di hadapannya.
Lalu aku berkata kepada putriku, “Bagaimana menurutmu dengan kondisiku ini wahai Mayaa’..?”, Ia menangis. Lalu ia mengusap air matanya dengan kedua tangannya, seraya berkata,
“Wahai mama… rambutmu yang gugur ini adalah amalan-amalan kebaikan”, lalu ia mulai mengumpulkan rambut-rambutku yang berguguran tadi dan meletakkannya di secarik tisu. Akupun menangis melihatnya hingga teriris-iris hatiku karena tangisanku.
Lalu aku memeluknya di dadaku dan aku berdoa kepada Allah agar menyembuhkan aku dan memanjangkan umurku demi Mayaa’ putriku ini, dan agar aku tidak meninggal karena penyakitku ini, dan agar Allah menyabarkan aku menahan pedihnya penyakitku ini.

Keeseokan harinya, Akupun meminta kepada suamiku alat cukur. Lalu aku mencukur seluruh rambutku di kamar mandi tanpa diketahui oleh seorangpun, agar aku tidak lagi sedih melihat rambutku yang selalu berguguran, di ruang tamu, di dapur, di tempat duduk, di tempat tidur, di mobil. Tidak ada tempat yang selamat dari bergugurannya rambutku.

Setelah itu akupun selalu memakai penutup kepala di rumah. Akan tetapi Mayaa putriku mengeluhkan akan hal itu lalu melepaskan penutup kepalaku. Iapun terperanjak melihat rambutku yang tercukur habis. Ia berkata, “Mama… kenapa engkau melakukan ini ?! Apakah engkau lupa bahwa aku telah berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu dan agar rambutmu tidak berguguran lagi?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya Allah akan mengabulkan doaku… Allah akan menjawab permintaanku…!! Allah tidak menolak permintaanku…!! Aku telah berdoa untukmu mama dalam sujudku agar Allah mengembalikan rambutmu lebih indah lagi dari sebelumnya. Lebih banyak dan lebih cantik.
Mama… sudah sebulan aku tidak membeli sarapan pagi di sekolah dengan uang jajanku, aku selalu menyedekahkan uang jajanku untuk para pembantu yang miskin di sekolah, dan aku meminta kepada mereka untuk mendoakanmu. Mama… tidakkah engkau tahu bahwasanya aku telah meminta kepada sahabatku Manaal agar meminta neneknya yang baik untuk mendoakan kesembuhanmu?? Mama… aku cinta kepada Allah, dan Dia akan mengabulkan doaku dan tidak akan menolak permintaanku dan Dia akan segera menyembuhkanmu”.

Mendengar tuturan putriku akupun tidak kuasa untuk menahan air mataku. Begitu yakinnya ia, begitu kuat dan berani jiwanya. Lalu akupun memeluknya sambil menangis.

Putriku lalu duduk bertelekan kedua lututnya menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya berdoa agar Allah menyembuhkanku sambil menangis. Ia menoleh kepadaku dan berkata, “Mama… hari ini adalah hari jum’at, dan saat ini adalah waktu mustajaab (terkabulnya doa). Aku berdoa untuk kesembuhanmu. Ustadzah Nuuroh hari ini mengabarkan aku tentang waktu mustajab ini.”

Sungguh hatiku teriris-iris melihat sikap putriku kepadaku. Akupun pergi ke kamarku dan tidur. Aku tidak merasa dan tidak terjaga kecuali saat aku mendengar lantunan ayat kursi dan surat Al-Fatihah yang dibaca oleh putriku dengan suaranya yang merdu dan lembut. aku merasakan ketentaraman. Aku merasakan kekuatan. Aku merasakan semangat yang lebih banyak. Sudah sering kali aku memintanya untuk membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas kepadaku. Jika aku tidak bisa tidur karena rasa sakit yang parah. Akupun memanggilnya untuk membacakan al-Qur’an untukku.

Sebulan kemudian setelah menggunakan obat-obatan kimia akupun kembali periksa di rumah sakit. Para dokter mengabarkan kepadaku bahwa saat ini aku sudah tidak membutuhkan lagi obat-obatan kimia tersebut, dan kondisiku telah semakin membaik. Akupun menangis karena saking gembiranya mendengar hal ini. Dan dokter marah kepadaku karena aku telah mencukur rambutku dan ia mengingatkan aku bahwasanya aku harus kuat dan beriman kepada Allah serta yakin bahwasanya kesembuhan ada di tangan Allah.

Lalu aku kembali ke rumah dengan sangat gembira. Dengan perasaan sangat penuh pengharapan. Putriku Mayaa’ tertawa karena kebahagiaan dan kegembiraanku. Ia berkata kepadaku di mobil, “Mama… dokter itu tidak mengerti apa-apa, Robku yang mengetahui segala-galanya”.

Aku berkata, “Maksudmu?” Ia berkata, “Aku mendengar papa berbicara dengan sahabatnya di HP, papa berkata padanya bahwasanya keuntungan toko bulan ini seluruhnya ia berikan kepada yayasan sosial panti asuhan agar Allah menyembuhkan uminya Mayaa”. Akupun menangis mendengar tuturannya, karena keuntungan toko tidak kurang dari 200 ribu real (sekitar 500 juta rupiah), dan terkadang lebih dari itu.

Sekarang kondisiku Alhamdulillah terus membaik, pertama karena karunia Allah, kemudian karena kuatnya Mayaa putriku yang telah membantuku dalam perjuangan melawan penyakit kanker yang sangat buruk ini. Ia telah mengingatkan aku kepada Allah dan bahwasanya kesembuhan di tangan-Nya, sebagaimana aku tidak lupa dengan jasa suamiku yang mulia yang telah bersedekah secara diam-diam tanpa mengabariku yang merupakan sebab berkurangnya rasa sakit yang aku rasakan.

Aku berdoa kepada Allah agar menyegerakan kesembuhanku dan juga bagi setiap lelaki atau wanita yang terkena penyakit kanker. Sungguh kami menghadapi rasa sakit yang pedih yang merusak tubuh kami dan juga jiwa kami. Akan tetapi rahmat Allah dan karunia-Nya lebih besar dan lebih luas sebelum dan sesudahnya.

Sumber: Majalah Al-Bayan Edisi 7 Th. ke-2

Artikel, Kisah Islam

Kisah Abdurrahman bin ‘Auf

Beliau bernama Abu Muhammad Abdurrohman bin ‘Auf bin Abdi ‘Auf bin Abd bin al-Harits bin Zahroh bin Kilab bin Murroh, di masa jahiliyah beliau dipanggil Abdu Amri atau Abdul Ka’bah. Kemudian setelah ke-Islamannya Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam mengganti nama beliau menjadi Abdurrahman.

Dan dialah Abdurrahman bin ‘Auf yang akan menorehkan tinta emas sejarah kejayaan Islam di periode pertama umat ini. Abdurrahman bin ‘Auf juga merupakan salah satu dari delapan orang yang pertama kali masuk Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga. Abdurrohman bin ‘Auf masuk Islam sebelum Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam masuk ke Darul Arqom dua hari setelah ke-Islaman Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Read the rest of this entry

Artikel, Kisah Islam

Kisah Abu Ayyub Al Anshori

Nama dan nasabnya:
Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia ini bernama Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah bin Abdi ‘Amr  bin ‘Auf bin Jasym bin Ghanam bin Malik bin an-Najjar bin Tsa’labah bin al-Kazraj dari Bani Najjar. Adapun ibunya bernama Hindun binti Sa’id bin Amru dari Bani al-Harits bin al Khazraj. Beliau lebih populer dengan kunyahnya  Abu Ayyub Al-Anshari Al-Khazraji Al-Badri.

Read the rest of this entry

Artikel, Kisah Islam

Kisah Zaid bin Tsabit

Beliau adalah Abul A’war Said bin Zaid bin Amru bin Nufail al-Quraisyi Al-Adawi. Ayah beliau Zaid bin Amru bin Nufail adalah salah satu diantara manusia yang hanif (lurus) yang selalu mencari agama yang hanif yaitu agama Nabiyullah Ibrahim alaihisalam.

Dari tulang sulbi beliau (Zaid bin Amru bin Nufail) tumbuhlah seorang pemuda gagah pemberani sebagai penerus keutamaan keluarga terpandang dalam salah satu suku Quraisy, dialah bernama Said yang berarti “bahagia”. Maka sesuai dengan namanya ia adalah orang yang mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia ia bahagia Karena telah diberi hidayah Islam di saat manusia tenggelam dalam kekufuran, di akhirat ia bahagia karena tempat beliau adalah surganya Allah Ta’ala.

Read the rest of this entry