Fatwa Ulama Archive

Fatwa Ulama, Informasi, Kajian, Kajian Islam, Pemateri, Ustadz Arif Budiman

[Kajian Mp3] Diyat – Ustadz Arif Budiman, Lc

diyat-

 

 بسم الله الرحمن الرحيم

[Kajian Mp3]

“Diyat”

Ustadz Arif Budiman, Lc

 Berikut adalah Playlist Kajian Mp3 dengan pembahasan “Diyat”   dengan Pemateri Ustadz Arif Budiman, Lc, anda bisa mengikuti kajian yang sama lainnya bersama Ustadz Arif Budiman , Lc secara langsung melalui  Program Acara SMART (Satu Jam Maraih Takwa), Insya Allah Setiap Hari Jum’at pada Pukul 05.30 – 06.30 WIB di Frekuensi Radio 94.3 Kita Fm Cirebon Atau lewat Streaming http://live.radiosunnah.net.

Semoga Bermanfaat, Terimakasih

Cara mendownloadnya klik disini 

 

Artikel, Fatwa Ulama, Muslimah

Hukum Muslimah Mengirimkan Foto Via Internet Ketika Nadhor

Dengan kecanggihan teknologi saat ini, terkadang banyak hal-hal yang melanggar syari’at yang dilakukan bahkan untuk suatu ibadah yang suci semisal pernikahan. Sebuah pertanyaan telah diajukan kepada Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin Rahimahullah tentang hal ini. Berikut adalah Fatwa tentang “Hukum Muslimah Mengirimkan Foto Via Internet dalam Proses Nadhor (Melihat Calon Pasangan)”

Pertanyaan:

Bolehkah seorang wanita mengirimkan fotonya melalui internet kepada seorang laki-laki yang melamarnya di tempat yang jauh untuk melihatnya lalu laki-laki tersebut menyetujuinya, apakah laki-laki tersebut boleh menikahinya atau tidak?

Jawaban:

Saya tidak melihat bolehnya hal tersebut:

  1. Karena mungkin ada orang lain selain laki-laki tersebut yang akan melihatnya.
  2. Karena gambar tidak akan menggambarkan hakikat yang sebenarnya secara sempurna. Berapa banyak gambar yang dilihat oleh orang lain, maka ketika dia melihat sendiri orang yang ada dalam gambar tersebut ternyata dia mendapatinya berbeda sama sekali.
  3. Mungkin foto tersebut tetap berada pada sang pelamar yang kemudian membatalkan lamarannya, akan tetapi foto tersebut tetap berada padanya, sehingga dia bisa mempermainkannya kapan saja dia kehendaki, wallahua’alam.

Buku Fatwa Sehari-hari Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin – Pustaka Assunnah.

Artikel, Fatwa Ulama

Hukum Memanggil Dengan Gelar-Gelar Yang Buruk

Sering kita temui dalam kehidupan pergaulan kita, entah itu dalam keluarga kita, saudara-saudara atau teman-teman kita, di antara sesama mereka saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Dan saat ini memanggil dengan gelar-gelar yang buruk seolah menjadi sebuah kondisi yang tidak biasa saja bagi mereka, tentunya hal ini tidak bisa dibenarkan. Mending saja, jika yang dipanggil tersebut tidak marah atau merasa sakit hati, namun bagaimana jika saudara atau teman kita tersebut tidak suka dan merasa sakit hati dengan panggilan/gelar-gelar yang buruk tersebut? Tentunya dengan hal ini kita sudah bersikap dzolim kepada saudara/teman kita dan telah menghinakan mereka di tengah pergaulannya.

Berikut ini kami hadirkan sebuah Fatwa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin Rahimahullah ketika ditanya tentang permasalahan ini. Semoga kita bisa mengambil faidahnya..

Pertanyaan:

Apa hukum memanggil dengan gelar-gelar yang buruk walaupun dengan hanya bergurau?

Jawaban:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman ” Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,” yakni dengan gelar-gelar yang buruk yang dapat membuat seseorang sedih. Adapun jika hanya sekedar bergurau maka walaupun tidak dihukumi, akan tetapi tidak pantas bagi seseorang yang mempunyai muru’ah/kehormatan untuk memanggil dengan gelar-gelar yang buruk walaupun dengan bergurau. Karena gurauan itu mungkin akan membawa kepada permusuhan dan perselisihan di masa yang akan datang.Dan mungkin didengar oleh orang lain, maka dia gunakan gelar itu lalu dia ejek orang yang bergelar dengan gelar itu dengan cara berdebat atau bergurau. Karena itu kami melihat bahwa yang utama bagi setiap orang yang mempunyai kehormatan untuk menjauhi memanggil dengan gelar-gelar yang buruk walaupun sambil bergurau.

(Majmuu’ Fataawaa asy-Syaikh 3/101) – Dari Buku Fatwa-Fatwa Penting Sehari-hari – Pustaka Assunnah.

Artikel, Fatwa Ulama, Muslimah

Seorang Suami Menentang Istrinya Berpakaian Yang Syar’i

Berpakaian yang syar’i bagi seorang muslimah merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap muslimah yang ingin menjaga harga diri dan kehormatannya. Namun terkadang dalam praktiknya, khususnya di dalam kehidupan berkeluarga/berumah tangga selalu ada saja penghalang baik dari pihak orang tua bahkan dari pasangan sendiri yang menentang bahkan melarang putri/istrinya untuk memakai busana muslimah yang syar’i.

Lalu bagaimanakah sikap kita dalam menyikapi masalah ini? Mari kita simak sebuah fatwa berikut ini, yaitu jawaban dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin Rahimahullah. Semoga bermanfaat …

muslimah

Pertanyaan: Asy-Syaikh yang mulia ditanya: Seorang laki-laki yang telah menikah memiliki beberapa orang anak, istrinya berkeinginan mengenakan pakaian yang syar’i sedangkan suaminya menentang hal itu, bagaimana nasihat Anda untuknya, semoga Allah memberkahi Anda..

Jawaban: Kami nasihatkan kepadanya agar bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang keluarganya dan sekaligus memuji Allah yang memberikan kemudahan baginya dengan seorang istri yang berkeinginan merealisasikan apa yang telah diperintahkan oleh Allah yaitu mengenakan pakaian yang syar’I yang menjamin keselamatannya dari fitnah. Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar memelihara diri mereka dari keluarganya dari api neraka dalam firman-Nya:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.  (Q.S At-Tahrim: 6)

Dan jika Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam telah membebankan kepada laki-laki pertanggung jawaban tentang keluarganya, beliau bersabda:

Seorang laki-laki menjadi pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya… “ (Muttafaq’alaihi)

Maka tidak layak laki-laki terebut berusaha memaksa istrinya untuk menanggalkan pakaian yang syar’i kepada pakaian yang haram, yang menjadi sebab timbulnya fitnah, maka hendaklah ia takut kepada Allah terhadap dirinya sendiri dan keluarganya dan hendaklah ia memuji Alllah atas nikmat-Nya yang telah memberikan kemudahan baginya dengan (adanya) perempuan yang shalihah ini.

Adapun berkaitan dengan suaminya, maka tidak halal baginya (istri) taat kepada suami selama-lamanya dalam rangka bermaksiat kepada Allah, karena tidak ada keta’atan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khalik.

Wallahua’lam bisshowaab.

-Dari buku fatwa-fatwa penting dalam sehari-hari – Syaikh Muhammad Shalih  Al Utsaimin. Pustaka Assunnah.

Artikel, Fatwa Ulama

Mencukur Jenggot Karena Timbul Fitnah?

mencukur jenggot

Memelihara jenggot merupakan salah satu sunnah Rosulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang di zaman sekarang ini sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian banyak kaum muslimin yang laki-laki. Banyak laki-laki yang merasa malu dan risih jika jenggot itu tumbuh di dagunya, atau rambut-rambut lain yang memenuhi wajahnya (lihyah).

Sejenak, mari kita perhatikan terlebih dulu hadits-hadits tentang perintah Nabi untuk memelihara jenggot bagi laki-laki:

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Cukurlah kumis, biarkanlah jenggot, dan selisilah majusi.” (HR. Muslim, 1/222/260)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa makna memelihara di atas adalah membiarkannya sebagaimana adanya. (Syarah Shahih Muslim).

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisilah orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot, dan cukur habislah kumis.” (HR. Bukhari, 10/349/5892)

Hadits-hadits di atas sudah menjelaskan secara gamblang tentang perintah Rosulullah untuk memelihar jenggot, lalu bagaimana hukumnya orang-orang yang dengan sengaja mencukur jenggotnya hanya karena malu dan dengan bangganya menjauh dari sunnah yang mulia ini? Padahal sudah jelas datang kepada kita perintah Beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalam:

وَلَآَمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

“Dan akan Aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (An Nisa’: 119)

Berikut ini ada sebuah pertanyaan mengenai bagaimana hukumnya mencukur jenggot karena takut akan menimbulkan fitnah. Pertanyaan tersebut di jawab oleh Al-Lajnah ad-daimah lil buhuts al-‘ilmiyah wal ifta’ (Lembaga Dialog Ilmiyah Saudi Arabia). Semoga bermanfaat…

Pertanyaan:
Sejak beberapa tahun ini saya mengenal Dienul Islam -walillahil hamd-, Allah telah memberi hidayah sehingga saya dan dua orang saudara saya bersedia memelihara jenggot. Sunnah Rasulullah ini kemudian diikuti oleh sebagian anggota keluarga. Alhamdulillah kami mampu menciptakan suasana islami di dalam rumah. Saudara-saudara wanita saya mengenakan busana muslimah dan kami senantiasa menerapkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan kemampuan kami. Kemudian terjadilah fitnah (kekacauan) di negeri kami, masyarakat berubah membenci orang-orang berjenggot dan mempersempit ruang gerak mereka. Masyarakat mengira setiap orang yang berjenggot pasti ingin membunuhi masyarakat dan menumpahkan darah mereka. Sebagaimana kaum muslimin lainnya, kami juga sama sekali tidak membenarkan tindakan membunuh dan menumpahkan darah yang diharamkan oleh Allah. Lalu kedua orang tua saya dan segenap keluarga terus meminta saya supaya mencukur jenggot. Ibu saya mengatakan bahwa ayah saya sangat marah kepada saya. Saya sendiri takut menyelisihi salah satu sunnah Rasulullah dan takut jatuh ke dalam perbuatan maksiat!?

Jawaban:

Alhamdulillah,

Pertama: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan atas ketaatan Anda mengikuti Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan dakwah Anda kepada segenap keluarga Anda kepada Sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Kedua: Mencukur jenggot haram hukumnya, sedang memeliharanya adalah wajib sebagaimana yang Anda ketahui. Mentaati Allah tentunya lebih diprioritaskan daripada mentaati makhluk meskipun ia adalah keluarga yang terdekat. Tidak boleh mentaati makhluk dalam hal berbuat maksiat kepada Allah. Mentaati makhluk harus dalam perkara-perkara ma’ruf saja. Apa yang Anda sebutkan tadi, berupa kekesalan dan kemarahan kedua orang tua karena Anda tetap memelihara jenggot hanyalah dorongan sentimen perasaan belaka dan rasa khawatir atas keselamatan pribadi Anda setelah melihat berbagai peristiwa yang menimpa orang lain. Akan tetapi peristiwa-peristiwa tersebut umumnya terjadi atas orang-orang yang terlibat dalam kancah fitnah itu bukan karena masalah memelihara jenggot semata. Hendaklah Anda tetap teguh di atas kebenaran dan tetap memelihara jenggot karena ketaatan kepada Allah dan mencari ridha-Nya, meskipun manusia tidak senang. Dan hendaknya Anda menjauhkan diri dari tempat-tempat fitnah dan selalu bertawakkal kepada Allah serta mengharap kepada-Nya semoga Dia memberi jalan keluar bagi Anda dari setiap kesempitan. Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. 65:2-3)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya. (QS. 65:4-5)

Kami anjurkan agar Anda tetap berbakti kepada kedua orang tua dan memberikan alasan kepada mereka berdua dengan lembut dan dengan cara yang baik.

sumber: Islamhouse.com

Artikel, Fatwa Ulama

Hukum Menata Rambut Ala Modern Untuk Muslimah

muslimah

Fitrah seorang wanita memang selalu ingin berhias dan mempercantik diri. Hal ini memang sangat wajar asalkan tetap pada koridor syar’i dan hendaklah diniatkan untuk tampil cantik di depan suaminya, dan bukan tabarruj untuk memamerkan kecantikannya di hadapan orang banyak sebagaimana yang sering terjadi pada sebagian banyak wanita muslimah di jaman ini.

Berikut ini adalah sebuah fatwa dari Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin mengenai hukum menata rambut ala modern, dimana trend rambut di masa ini khususnya untuk kaum wanita menjadi sebuah trend yang sangat digemari walaupun terkadang trend tersebut lebih banyak menyerupai gaya wanita-wanita non-muslim, yang tentunya bagi kaum muslimah harus senantiasa menjauhi sikap menyerupai tersebut yang merupakan tasyabuh terhadap orang-orang kafir.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)

Pertanyaan:

Asy-Syaikh yang mulian ditanya: Bolehkah baginya (perempuan) menata rambutnya dengan cara modern, dan bukan bertujuan untuk menyerupai perempuan-perempuan kafir, akan tetapi untuk suaminya, perlu diketahui bahwa wanita tersebut -alhamdulillah- komitmen terhadap urusan agamanya?

Jawaban:

Informasi yang sampai kepada saya tentang penataan rambut tersebut mesti dengan biaya yang memberatkan lagi banyak, yang mana terkadang penataannya sebagai bentuk menyia-nyiakan harta, dan yang saya nasehatkan pada kaum wanita agar menjauhi kemewahan ini. Hendaklah perempuan mempercantik diri untuk suaminya dengan cara tidak menyia-nyiakan harta, sesunguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi sallam melarang menyia-nyiakan harta.

Adapun jika ia pergi ke tukang rias perempuan yang mana ia meriasnya dengan biaya yang ringan untuk mempercantik diri untuk suaminya, maka hal ini tidaklah mengapa.

(Fataawaa Al-Haram 1408 H hal.285-286) dari Buku Fatwa-Fatwa Penting Sehari-hari – Pustaka Assunnah.

Semoga bermanfaat..